Indonesia memiliki ribuan desa dengan karakteristik yang berbeda. Karena itu, pengembangan STP tidak perlu diseragamkan.
Sidoarjo, Jawa Timur (ANTARA) - Science Techno Park (STP) merupakan suatu kawasan yang mempertemukan hasil riset perguruan tinggi/ lembaga penelitian, dunia usaha, dan pemerintah dalam mengembangkan inovasi berbasis teknologi.
Prinsip STP bukan terletak pada bangunannya, melainkan pada ekosistem inovasi yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Prinsip ini yang membuka peluang STP dapat dikembangkan di berbagai macam lokasi, salah satunya ditingkat Desa.
Desa sesungguhnya menyimpan potensi yang sangat besar. Indonesia memiliki ribuan desa dengan keunggulan yang beragam, mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, hingga industri rumah tangga berbasis kearifan lokal.
Potensi tersebut didukung oleh ketersediaan sumber daya alam, tenaga kerja, serta kelembagaan masyarakat seperti kelompok tani, kelompok peternak, koperasi, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Di sisi lain, desa dihadapkan pada tantangan besar untuk dapat memanfaatkan potensi tersebut seperti rendahnya nilai tambah produk, belum optimalnya pemanfaatan sumber daya lokal, dan limbah yang belum dikelola. Namun demikian, dalam konteks pengembangan STP di desa, tantangan ini merupakan titik awal lahirnya inovasi yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Agar pengembangan STP di desa berkembang secara berkelanjutan, diperlukan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik wilayah perdesaan. Salah satu pendekatan yang paling relevan adalah ekonomi sirkular, yaitu sistem yang memanfaatkan kembali sumber daya sehingga limbah dari satu aktivitas menjadi bahan baku bagi aktivitas lainnya.
Dengan pendekatan ini, pembangunan desa tidak lagi bergantung pada eksploitasi sumber daya baru, tetapi mengoptimalkan potensi yang telah tersedia.
Pendekatan ini telah diimplementasikan di sebuah desa pada lereng Gunung Bromo, yaitu: Desa Gendro, Kec Tutur, Kab Pasuruan, Jawa Timur. Desa ini memiliki potensi yang saling melengkapi, yaitu peternakan sapi perah dan budidaya hortikultura. Kedua potensi tersebut merupakan mata pencarian utama warga desa. Aktivitas peternakan menghasilkan susu sapi perah yang menjadi sumber pendapatan utama harian peternak.
Sementara itu, petani mengelola lahan dengan berbagai macam jenis tanaman holdikultura dengan masa panen tertentu. Bersamaan dengan aktivitas itu, terdapat limbah yang dihasilkan peternakan dalam bentuk padat dan cair yang belum dapat dikelola secara optimal. Di sisi lainnya, budidaya hortikultura yang dilakukan petani menggunakan pupuk sebagai salah satu cara untuk meningkatkan hasil produksinya.
Apabila kedua sektor tersebut berjalan sendiri-sendiri, limbah peternakan akan terus menjadi persoalan lingkungan, sedangkan petani tetap bergantung pada pupuk dari luar desa. Namun melalui pendekatan ekonomi sirkular, kedua sektor tersebut mulai diintegrasikan.
Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik cair dan pupuk organik padat untuk mendukung budidaya hortikultura. Sebaliknya, residu hasil pertanian dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pakan ternak melalui teknologi pengolahan pakan.
Siklus ini membentuk hubungan yang saling menguntungkan antara peternakan dan pertanian.
Proses tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan limbah. Pendampingan juga diarahkan pada pengembangan teknologi tepat guna, peningkatan kapasitas kelompok masyarakat, diversifikasi produk susu, serta penguatan kelembagaan peternak dan petani.
Perguruan tinggi berperan menghadirkan hasil riset dan inovasi, pemerintah memberikan dukungan kebijakan dan fasilitasi, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang mengembangkan dan memanfaatkan inovasi tersebut. Kolaborasi inilah yang menjadi esensi pengembangan STP di desa.
Pengalaman di Desa Gendro menunjukkan bahwa STP tidak harus dibangun melalui investasi infrastruktur yang besar. Yang lebih penting adalah membangun sistem kolaborasi yang mampu mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika hasil penelitian diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata, masyarakat tidak lagi menjadi objek penerima teknologi, tetapi menjadi mitra yang ikut mengembangkan inovasi.
Model seperti ini juga membuka peluang lahirnya berbagai inovasi lanjutan. Produk susu dapat didiversifikasi menjadi produk bernilai tambah, pupuk organik dapat menjadi unit usaha baru, limbah pertanian dapat dimanfaatkan secara lebih produktif, bahkan teknologi digital dapat digunakan untuk mendukung pencatatan produksi, pemasaran, maupun ketertelusuran produk. Dengan demikian, STP menjadi ekosistem yang terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Indonesia memiliki ribuan desa dengan karakteristik yang berbeda. Karena itu, pengembangan STP tidak perlu diseragamkan. Desa peternakan dapat membangun inovasi berbasis peternakan, desa pertanian mengembangkan teknologi budidaya dan pascapanen, sedangkan desa pesisir dapat mengembangkan inovasi berbasis perikanan.
Yang perlu disamakan adalah cara berpikirnya, yaitu menjadikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi sirkular sebagai fondasi pembangunan desa.
Ke depan, STP berbasis desa berpotensi menjadi model pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Melalui ekonomi sirkular, inovasi tidak hanya menghasilkan teknologi baru, tetapi juga menciptakan sistem yang mampu mengoptimalkan sumber daya lokal, mengurangi limbah, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.
Desa pun tidak lagi dipandang sebagai penerima inovasi, melainkan sebagai ruang lahirnya inovasi yang dapat menginspirasi pembangunan di berbagai daerah.
Sementara itu, kegiatan STP di Desa Gendro ini difasilitasi oleh Kemdiktisaintek melalui pendanaan Abdimas untuk skema Program Desa Binaan (PDB) 2026.
-----
*) Penulis merupakan Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida)
Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.