Magetan (ANTARA) - Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek 2 di Desa Botok, Kecamatan Karas, Magetan, Jawa Timur mengembangkan usaha pembuatan aneka jajanan dari olahan waluh atau labu kuning yang merupakan komoditas andalan daerah setempat guna meningkatkan kesejahteraan anggota.
Inisiator sekaligus anggota KWT Anggrek 2 Desa Botok Niken di Kabupaten Magetan, Minggu mengatakan diversifikasi usaha pembuatan aneka jajanan dari olahan waluh tersebut bertujuan meningkatkan pendapatan ibu-ibu anggota kelompok wanita tani dalam mengolah komoditas lokal untuk menjadi produk bernilai jual tinggi yang muaranya menambah keuntungan.
"Waluh merupakan komoditas lokal Desa Botik yang ditanam secara tumpang sari di lahan tebu dan jagung. Setiap kali musim panen, jumlahnya melimpah dan harga jualnya murah," ujarnya.
Untuk itu, ia dan para anggota KWT lainnya tergerak mencari cara agar waluh dari pola tanam tumpang sari tersebut memiliki daya jual tinggi. Mereka kemudian mengembangkan berbagai ragam pangan olahan waluh mulai dari dodol waluh atau candil, geplak waluh, hingga kue lumpur waluh.
Menurutnya olahan kreatif tersebut langsung mendulang nilai ekonomi yang lumayan saat dipasarkan di berbagai pameran maupun pasar lokal. Jika biasanya buah waluh dihargai murah kisaran Rp5 ribu hingga Rp8 ribu per kilogram di pasaran tergantung ukuran oleh pengepul, saat diolah jadi dodol atau geplak bisa dijual Rp10 ribu per pak isi 10 biji.
"Kalau geplak itu, kelapa diparut saja, dicampur waluh sama gula, prosesnya sama. Saya buat panjang-panjang seperti bentuk dodol," kata Niken.
Selain meningkatkan nilai jual, pengolahan tersebut juga menjadi jawaban atas masalah masa simpan buah segar. Olahan waluh produksi KWT setempat memiliki ketahanan produk yang cukup lama.
"Dua minggu masih tahan di suhu ruang, kalau disimpan di lemari pendingin bisa tahan sampai sebulan," kata Niken.
Kepala Desa Botok Sungkono memberikan dukungan dan apresiasi atas inisiatif KWT Anggrek 2 mengolah waluh menjadi aneka jajanan.
"Saya sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh ibu-ibu KWT. Langkah ini tidak hanya mampu menambah penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam memanfaatkan potensi serta hasil bumi desa secara optimal," kata Sungkono.
Ia berharap agar produk-produk olahan waluh karya warga Desa Botok tidak berhenti di pameran atau pasar lokal saja, namun bisa diperluas.
"Saya sangat berharap produk olahan waluh ini pemasarannya dapat diperluas lagi, baik ke ritel modern maupun pasar nasional, sehingga Desa Botok bisa semakin dikenal luas melalui produk kuliner khasnya," katanya.
Ia juga ingin agar pengembangan olahan waluh tersebut terus ditingkatkan sebagai upaya penopang ekonomi keluarga dan motor penggerak kemandirian wanita tani di Desa Botok.
Pewarta: Louis Rika StevaniEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.