Moskow (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengetahui adanya kasus infeksi virus Bourbon yang dilaporkan di Amerika Serikat dengan risiko penyebarannya masih rendah, kata Juru Bicara Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO), Sebastian Oliel.
"Saat ini, bukti yang ada tidak menunjukkan adanya penularan yang meluas di masyarakat. Risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan bagi populasi umum tampaknya rendah, mengingat jumlah kasus yang dilaporkan sangat sedikit," kata Oliel kepada RIA Novosti, Selasa (4/8).
Oliel menambahkan bahwa penyakit akibat virus Bourbon merupakan infeksi yang sangat langka dan ditularkan melalui gigitan kutu. Virus tersebut pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat pada 2014.
Pada Sabtu (1/8), Fox News melaporkan bahwa kasus pertama infeksi virus Bourbon yang langka telah terdeteksi di Negara Bagian New York. Hingga kini, belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi virus tersebut.
Gejala infeksi virus Bourbon meliputi demam, tubuh lemas, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam. Para dokter menghadapi kesulitan dalam mendiagnosis penyakit tersebut karena belum tersedia tes khusus untuk mendeteksi virus Bourbon.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Pewarta: Fransiska NindityaEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.