Surabaya (ANTARA) -

"Pohon kelapa di telaga angsa,

Nyiur melambai penuh inspirasi.

Ekspedisi Patriot mengabdi untuk bangsa,

Menyejahterakan rakyat di kawasan transmigrasi."

 

Sepintas, pantun yang dilantunkan Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, saat melepas Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (30/7), mungkin terdengar ringan di telinga. Namun, sebagaimana hampir semua karya sastra yang lahir dari kebijaksanaan rakyat, pantun tidak pernah berhenti pada bunyi. Ia mengandung cara pandang. Ia menyimpan filsafat.

Empat larik itu sesungguhnya mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar bagaimana menjalankan program transmigrasi, yakni untuk apa ilmu pengetahuan dihadirkan?

Di tengah dunia yang semakin mengagungkan kompetisi, ukuran keberhasilan sering kali direduksi menjadi publikasi, indeks sitasi, pertumbuhan ekonomi, atau capaian statistik. Semua itu penting. Namun, sejarah selalu mengingat bahwa peradaban besar tidak dibangun semata oleh kecanggihan ilmu, melainkan oleh kesediaan ilmu untuk mengabdi kepada manusia. Di sinilah pantun tersebut menemukan relevansinya. 

 

Falsafah Pohon Kelapa

Baris pertama menghadirkan pohon kelapa sebagai metafora kehidupan. Dalam kebudayaan Nusantara, kelapa adalah pohon yang nyaris tidak menyisakan limbah. Akar mengikat tanah, batang menopang bangunan, daun menaungi kehidupan, buah memberi pangan, sabut menjadi pelindung. Seluruh dirinya hadir sebagai manfaat. Bukankah demikian pula seharusnya manusia berilmu?

Ilmu kehilangan martabatnya ketika berhenti menjadi pengetahuan yang dikagumi, tetapi gagal menjadi kebijaksanaan yang menghidupi. Sebaliknya, ilmu menemukan kemuliaannya ketika mampu mengurangi penderitaan, memperluas harapan, dan menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat.

Karena itu, menjadi Patriot bukan sekadar membawa kompetensi ke kawasan transmigrasi. Menjadi Patriot berarti menjadikan setiap pengetahuan sebagai kebermanfaatan. Sebab ukuran tertinggi kecerdasan bukanlah apa yang kita ketahui, melainkan siapa yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.

 

Nyiur Menginspirasi Negeri

Jika pohon kelapa melambangkan manfaat, maka nyiur yang melambai menghadirkan pelajaran tentang kebijaksanaan. Nyiur tidak menantang angin dengan kekakuan. Ia bergerak mengikuti arah tiupan, tetapi tidak kehilangan akar. Kelenturannya justru menjadi sumber kekuatannya. Demikian pula pengabdian.

Sering kali kita datang ke masyarakat dengan membawa teori, metode, dan teknologi. Semua itu berharga. Namun masyarakat juga membawa sesuatu yang tidak kalah penting, yakni pengalaman, ingatan kolektif, dan kearifan lokal yang lahir dari pergulatan panjang dengan alam dan kehidupan. Lantaran itu, pengabdian sejati tidak dimulai dari hasrat untuk mengajar, melainkan dari kerendahan hati untuk belajar.

Di titik inilah kampus dan masyarakat tidak lagi berhadapan sebagai pemberi dan penerima pengetahuan. Keduanya menjadi sesama pembelajar. Ilmu akademik bertemu dengan kebijaksanaan lokal. Dari perjumpaan itulah lahir inovasi yang berakar sekaligus bertumbuh. Inspirasi lahir ketika ilmu pengetahuan berdialog dengan realitas, bukan ketika teori dipaksakan menjadi jawaban tunggal.

Dalam konteks itulah, Ekspedisi Patriot bukan sekadar mengirim akademisi ke lapangan, tetapi menghadirkan ruang belajar dua arah. Masyarakat belajar dari ilmu pengetahuan, sementara perguruan tinggi belajar dari kehidupan nyata.

 

Patriot Mengabdi Bangsa

Baris ketiga menghadirkan kata yang mungkin paling penting dalam keseluruhan pantun, yakni mengabdi. Mengabdi bukan sekadar bekerja. Bukan pula sekadar menjalankan program.

Mengabdi berarti menyadari bahwa pengetahuan adalah amanah. Bahwa setiap kemampuan intelektual mengandung tanggung jawab moral. Lantaran itu, pengabdian kaum terdidik harus bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan yang bernafaskan keagamaan, agar ilmu tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menajamkan kepekaan nurani. Pendidikan tinggi pada akhirnya tidak diukur oleh seberapa tinggi menara keilmuannya, tetapi oleh seberapa luas manfaat yang dipancarkannya.

Dalam spirit itulah, Ekspedisi Patriot dipanggil untuk menghadirkan jati diri sebagai insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi. Sebagai insan akademis, mereka dituntut berpikir kritis dan bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan. Sebagai insan pencipta, mereka diharapkan melahirkan gagasan, inovasi, dan solusi atas persoalan masyarakat. Adapun sebagai insan pengabdi, seluruh pengetahuan dan inovasi tersebut harus diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan dan meningkatkan kesejahteraan.

Lantaran itu, Ekspedisi Patriot 2026 mengambil langkah yang lebih maju. Orientasinya tidak berhenti pada pemetaan persoalan, melainkan bergerak menuju penyelesaian persoalan. Model, prototipe, pendampingan, inovasi teknologi, hingga rekomendasi kebijakan menjadi bentuk nyata dari ilmu yang bekerja.

Perguruan tinggi pun menemukan kembali alasan keberadaannya. Tri Dharma bukanlah tiga aktivitas yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan satu panggilan yang utuh untuk mendidik manusia, mengembangkan ilmu, dan menghadirkan kemaslahatan dalam ruang kehidupan masyarakat transmigrasi.

 

Transmigrasi Menuju Sejahtera

Larik terakhir membawa seluruh narasi itu menuju tujuan akhirnya, yakni kesejahteraan masyarakat. Selama bertahun-tahun, kawasan transmigrasi sering dipandang sebagai wilayah yang jauh dari pusat pertumbuhan. Cara pandang seperti itu perlahan berubah. Paradigma transmigrasi kini juga mengalami perubahan mendasar. Kawasan transmigrasi tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran yang sekadar membutuhkan bantuan.

Hari ini, kawasan transmigrasi justru menyimpan potensi menjadi simpul baru pembangunan nasional, dari pertanian modern, perikanan, perkebunan, industri hilir, energi terbarukan, hingga ekonomi kreatif. Potensi, bagaimanapun, tidak pernah tumbuh dengan sendirinya. Ia memerlukan ilmu pengetahuan, kepemimpinan, inovasi, dan kolaborasi. Dalam ikhtiar bersama itulah, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat harus mengambil peran serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur di kawasan transmigrasi.

Di sinilah Ekspedisi Patriot memperoleh makna strategisnya. Ia bukan sekadar perjalanan akademik menuju daerah-daerah transmigrasi. Ia adalah jembatan yang mempertemukan ilmu dengan kehidupan, kampus dengan masyarakat, kebijakan dengan kenyataan, serta cita-cita pembangunan dengan kebutuhan manusia.

Pembangunan yang berhasil bukanlah pembangunan yang menghasilkan laporan paling tebal, melainkan yang membuat semakin banyak warga dapat hidup lebih bermartabat.

Pada akhirnya, empat larik pantun sederhana itu menyampaikan pelajaran yang melampaui momentum pelepasan sebuah ekspedisi patriot. Pohon kelapa mengajarkan kebermanfaatan. Nyiur mengajarkan kelenturan. Patriot mengajarkan pengabdian. Transmigrasi mengingatkan bahwa seluruh ikhtiar pembangunan harus bermuara pada kesejahteraan manusia.

Lantaran bangsa ini pada akhirnya tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang pandai. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang menjadikan kepandaiannya sebagai jalan pengabdian. Keberhasilan Ekspedisi Patriot bukan diukur dari seberapa jauh para pesertanya menjelajahi Nusantara, melainkan dari seberapa besar jejak manfaat yang mereka tinggalkan.

Ketika ilmu menemukan maknanya dalam pelayanan, ketika pengabdian melahirkan harapan, dan ketika harapan menghadirkan kesejahteraan, saat itulah pembangunan tidak lagi sekadar memindahkan manusia ke suatu wilayah. Ia sedang membangun peradaban. Saat itulah cita-cita membangun Indonesia dari kawasan transmigrasi benar-benar menemukan maknanya. 

 

*) Penulis adalah Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 



Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026