Surabaya (ANTARA) - Spanyol kembali berdiri di puncak sepak bola dunia. Dalam final Piala Dunia 2026, La Roja menaklukkan Argentina dengan skor 1–0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106. Skornya tipis, tetapi jalannya pertandingan menunjukkan cerita yang jauh lebih tegas.
Sepanjang waktu normal, Spanyol menguasai sekitar 65 persen bola dan mencatatkan 12 tembakan, tujuh di antaranya mengarah ke gawang. Argentina bahkan tidak menghasilkan satu pun tembakan selama 90 menit. Hingga babak pertama perpanjangan waktu, perbandingan percobaan tembakan sempat mencapai 20–0.
Argentina memang mampu bertahan cukup lama, terutama berkat penampilan luar biasa Emiliano Martínez. Namun, seorang penjaga gawang hanya dapat menunda kekalahan, bukan selalu membatalkannya. Tekanan Spanyol akhirnya menemukan jalan ketika Ferran Torres mencetak gol kemenangan.
Kemenangan itu tidak lahir semata-mata dari kualitas individu. Spanyol memiliki filosofi permainan, pembinaan usia muda, kompetisi berjenjang, regenerasi, kualitas pelatih, sport science, analisis data, dan tata kelola yang dibangun bertahun-tahun. Ferran Torres memang mencetak gol, tetapi kemenangan tersebut merupakan hasil kerja sebuah ekosistem.
Pelajaran ini penting bagi Indonesia. Kita tentu ingin suatu saat melihat Tim Nasional Indonesia tampil di Piala Dunia, bukan hanya sebagai penonton yang mengenakan kostum negara lain, melainkan sebagai peserta yang menyanyikan Indonesia Raya di stadion tempat Piala Dunia digelar.
Harapan itu bukan sesuatu yang mustahil. Namun, Piala Dunia tidak dicapai melalui euforia, pergantian pelatih, atau kebijakan sesaat. Ia disiapkan melalui pembinaan pemain muda, peningkatan kualitas pelatih, kompetisi yang sehat, fasilitas latihan, sport science, tata kelola federasi, dan kesinambungan program lintas generasi.
Pemain diaspora maupun pemain naturalisasi dapat menjadi bagian penting dari strategi percepatan. Namun, fondasi jangka panjang tetap terletak pada kemampuan Indonesia menemukan, membina, dan mematangkan talenta dari seluruh pelosok negeri.
Logika yang sama berlaku dalam pendidikan tinggi. Kampus tidak menjadi kelas dunia lantaran satu publikasi, satu penghargaan, atau satu seremoni internasional. Reputasi global lahir dari mutu pendidikan, kualitas riset, jejaring, infrastruktur, pendanaan, dan tata kelola yang konsisten.
Dalam QS World University Rankings 2027, tujuh perguruan tinggi Indonesia berhasil masuk jajaran 500 besar dunia, yakni UI di peringkat 191, UGM 206, UNAIR 276, ITB 287, IPB 419, UNPAD 496, dan ITS 497.
Capaian ini penting. Perguruan tinggi Indonesia mulai semakin diperhitungkan dalam peta akademik global. Namun, di balik kabar baik itu terdapat ironi, yakni kampus-kampus diminta berlari menuju kelas dunia, sementara kampus-kampus tersebut masih ditopang oleh dukungan fiskal kelas dua.
Perguruan tinggi dituntut meningkatkan publikasi bereputasi, membangun laboratorium modern, menarik profesor dan mahasiswa asing, memperluas jejaring internasional, melahirkan inovasi, dan menyiapkan talenta unggul. Semua itu wajar bagi bangsa yang ingin naik kelas. Namun, ambisi besar memerlukan daya dukung besar. Tidak mungkin kampus diminta berlari semakin jauh dengan bekal yang semakin terbatas.
Indonesia Tangguh
Ketangguhan bukan sekadar kemampuan bertahan. Argentina mampu menahan Spanyol selama lebih dari seratus menit, tetapi tidak mampu mengambil kembali kendali permainan. Di situlah perbedaan antara sekadar tidak kalah dan memiliki kapasitas untuk menang.
Indonesia Tangguh adalah Indonesia yang mampu belajar, beradaptasi, memperbaiki sistem, dan keluar dari tekanan dengan kapasitas yang lebih kuat. Ketangguhan nasional tidak cukup bertumpu pada luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekayaan alam, tetapi pada kualitas manusia, kekuatan institusi, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesinambungan kebijakan.
Perguruan tinggi yang tangguh tidak dapat dibangun hanya dengan target. Laboratorium memerlukan biaya, talenta memerlukan dukungan, dan riset memerlukan waktu. Efisiensi memang penting, tetapi jangan sampai dijadikan istilah yang sopan untuk pembiaran.
Otonomi kampus juga tidak boleh dimaknai sebagai negara menyerahkan perahu, lalu meminta perguruan tinggi mendayung sendiri di tengah badai. Otonomi seharusnya disertai kepercayaan, dukungan, dan keberpihakan fiskal yang memadai
Hal yang sama berlaku dalam sepak bola. Tim nasional harus tetap memiliki arah meskipun pelatih, pemain, dan pengurus berganti. Setiap kegagalan semestinya menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk membongkar seluruh fondasi dan memulai kembali dari nol.
Indonesia Berdampak
Spanyol tidak menjadi juara lantaran penguasaan bola. Mereka menjadi juara karena penguasaan itu menghasilkan tekanan, peluang, dan akhirnya gol. Aktivitas tidak selalu sama dengan hasil. Kesibukan tidak otomatis berarti kemajuan.
Perguruan tinggi dapat terlihat sangat sibuk dengan rapat, seminar, publikasi, paten, dan kerja sama. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah semua itu dilakukan?
Indonesia Berdampak berarti pendidikan menghasilkan manusia yang mampu menyelesaikan persoalan, penelitian melahirkan solusi, dan inovasi hadir dalam industri serta kehidupan masyarakat.
Dampak sepak bola juga tidak berhenti pada kemenangan. Tim nasional yang berprestasi dapat membangun kepercayaan diri bangsa, menggerakkan ekonomi olahraga, membuka lapangan kerja, dan menginspirasi generasi muda. Namun, prestasi harus meninggalkan warisan berupa akademi, pelatih, fasilitas, dan kompetisi yang lebih baik.
Penguasaan bola harus menghasilkan gol. Ilmu pengetahuan harus menghasilkan perubahan. Prestasi olahraga harus menghasilkan perbaikan ekosistem.
Indonesia Mendunia
Mendunia tidak berarti kehilangan identitas. Spanyol menjadi juara justru karena mampu membangun karakter permainannya sendiri dan menjaganya secara konsisten.
Indonesia juga harus mendunia dengan kekuatannya sendiri dengan keberagaman, kreativitas, bonus demografi, sumber daya alam, dan semangat gotong royong. Namun, modal besar tidak otomatis menjadi keunggulan. Potensi harus diubah menjadi kapasitas
Indonesia Mendunia berarti riset ilmuwan kita dibaca dunia, inovasi digunakan lintas negara, industri nasional menghasilkan teknologi, kampus menjadi tujuan mahasiswa internasional, dan Tim Nasional Indonesia tampil di Piala Dunia dengan kepala tegak.
Namun, ambisi itu membutuhkan investasi. Tidak cukup meminta kampus naik peringkat tanpa memperkuat riset dan infrastruktur. Tidak cukup meminta tim nasional lolos ke Piala Dunia tanpa pembinaan, fasilitas, kompetisi, dan sport science yang kuat.
Pada saat yang sama, Indonesia perlu mengelola energi kolektifnya secara lebih produktif. Jangan sampai perhatian bangsa ini terus terkuras oleh kegaduhan dan dramatisasi dalam pemberantasan korupsi yang terus berulang dan semakin memuakkan, polemik Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta kegaduhan sejenis yang menyita energi tetapi tidak selalu menghasilkan kemajuan.
Korupsi harus diberantas, kebijakan harus diawasi, dan program publik harus dikritisi. Namun, bangsa besar tidak boleh hanya sibuk membersihkan kesalahan masa lalu. Ia juga harus berani merancang kemenangan masa depan.
Kita membutuhkan lebih banyak kabar tentang penelitian baru, inovasi teknologi yang berhasil dikembangkan dan diterapkan, mahasiswa yang berprestasi, industri yang naik kelas, dan pemain Indonesia yang bersinar di panggung dunia. Jangan sampai energi bangsa habis memadamkan kebakaran yang sama, sementara kita lupa membangun rumah yang lebih tahan api.
Spanyol telah mengangkat trofi dunia. Kini saatnya Indonesia mengangkat kualitas manusianya, memperbesar dampak ilmu pengetahuannya, memperkuat ekosistem sepak bola nasional, dan mengarahkan energi bangsanya pada agenda kemajuan. Sebab untuk mendunia, Indonesia tidak hanya membutuhkan mimpi besar. Indonesia membutuhkan sistem yang membuat mimpi itu masuk akal.
*) Penulis adalah Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember; Dosen Transportasi pada Departemen Teknik Infrastruktur Sipil, Fakultas Vokasi ITS
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.