Nganjuk (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan percepatan peningkatan produksi pangan nasional melalui pemanfaatan lahan program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
"Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh pertanian bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi yang optimal," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti saat Gerakan Tanam Serempak di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu.
Arsanti mengatakan gerakan tanam serempak menjadi bagian dari upaya percepatan produksi pangan nasional melalui peningkatan indeks pertanaman pada lahan hasil program Oplah dan CSR.
Kementan menargetkan peningkatan indeks pertanaman hingga IP 250 bahkan IP 300 dengan mendorong penggunaan varietas genjah, varietas tahan hama dan kekeringan, teknologi budidaya adaptif, serta pemupukan berimbang sesuai prinsip 4T.
Menurut dia, lahan yang telah memperoleh intervensi program pemerintah harus segera dimanfaatkan secara optimal agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani. Pendampingan penyuluh pertanian juga terus diperkuat agar inovasi teknologi dapat diterapkan secara efektif di lapangan.
Selain itu, Kementan mendorong penerapan Program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) melalui mekanisasi dan pengelolaan usaha tani terintegrasi guna meningkatkan efisiensi serta daya saing sektor pertanian.
Arsanti menyebut kinerja sektor pertanian nasional menunjukkan tren positif. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai sekitar 5,2 juta ton pada pertengahan Juli 2026, sedangkan serapan beras dalam negeri mencapai sekitar 3,4 juta ton setara beras.
Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), potensi panen pada periode Juni hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai sekitar 2,88 juta hektare dengan proyeksi produksi sekitar 14,61 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Capaian ini merupakan hasil kerja keras petani, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. Namun kita tidak boleh berpuas diri. Justru capaian ini menjadi modal untuk terus meningkatkan produksi pangan nasional," ujar Arsanti.
Data Kementan mencatat realisasi tanam pada lokasi Oplah 2024 hingga 16 Juli 2026 telah mencapai 531.730,56 hektare dengan indeks pertanaman 1,52. Sementara Oplah 2025 mencapai 675.797,60 hektare dengan indeks pertanaman 1,54, sedangkan lahan CSR 2025 telah tertanami seluas 64.509,44 hektare dengan indeks pertanaman 1,04.
Kementan juga mendorong Brigade Pangan melakukan konsolidasi lahan agar pemanfaatan alat dan mesin pertanian lebih optimal serta mengingatkan pentingnya pelaporan realisasi tanam dan berbagai kendala di lapangan secara cepat dan akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan peningkatan produksi pangan nasional.
Gerakan tanam tersebut dipusatkan di Desa Gemengeng, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, dan dilaksanakan serentak pada lokasi Oplah 2024-2025 serta CSR 2025.
Kegiatan dihadiri Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, jajaran Kementerian Pertanian, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Heru Suseno, dan tamu undangan lainnya.
Pewarta: Asmaul ChusnaEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.