Surabaya (ANTARA) - Film terbaru Christopher Nolan, The Odyssey, menjadi salah satu karya yang paling dinantikan pada 2026, bukan semata karena mengadaptasi puisi epik karya Homer, melainkan juga menawarkan cara baru memaknai kisah yang telah bertahan lebih dari dua milenium.

Dibintangi Matt Damon sebagai Odysseus dan Anne Hathaway sebagai Penelope, film tersebut lebih dahulu tayang perdana di London pada awal Juli sebelum dirilis secara luas di Amerika Serikat dan Inggris pada 17 Juli 2026, sedangkan di Indonesia pada Rabu (15/7).

Selama ini, The Odyssey dipahami sebagai kisah kepahlawanan seorang raja Yunani yang berjuang kembali ke rumah setelah Perang Troya berakhir. Namun, di tangan Nolan, cerita itu berkembang menjadi refleksi tentang bagaimana mitos terus hidup melalui medium yang berbeda pada setiap zaman.

Alih-alih sekadar memindahkan puisi klasik ke layar lebar, sutradara peraih Oscar itu menghadirkan tafsir visual yang berpotensi membentuk ingatan baru masyarakat terhadap kisah Odysseus, sama seperti generasi sebelumnya mengenalnya melalui sastra, lukisan, hingga patung-patung klasik.

Pendekatan tersebut membuat The Odyssey layak dibaca bukan hanya sebagai film petualangan berskala besar, melainkan juga sebagai karya budaya yang memperlihatkan bagaimana sebuah mitos terus mengalami transformasi tanpa kehilangan makna utamanya.

Dalam perspektif semiotika Roland Barthes, mitos merupakan sistem tanda yang terus melahirkan makna baru sehingga tidak berhenti pada cerita aslinya.

Melalui bukunya Mythologies (1957), filsuf dan semiolog Prancis itu menjelaskan bahwa mitos bekerja dengan mengubah fakta atau sejarah menjadi sesuatu yang tampak alamiah dan universal sehingga dapat diterima lintas generasi.

Pembacaan itu terlihat ketika Nolan menghadirkan interpretasi berbeda terhadap Kuda Troya, termasuk adegan prajurit yang bersembunyi di dalamnya sambil bernapas melalui sedotan, gambaran yang tidak ditemukan dalam puisi Homer.

Dalam kerangka Barthes, penambahan itu menunjukkan bahwa setiap zaman dapat melahirkan penanda baru atas mitos yang sama tanpa menghilangkan makna dasarnya.

Visual tersebut berpotensi menjadi ingatan kolektif baru bagi penonton modern sehingga film tidak hanya mengisahkan mitos, tetapi juga menciptakan mitos visual yang akan dikenang generasi berikutnya.
Pendekatan serupa tampak melalui keputusan Nolan melibatkan rapper Travis Scott dalam jajaran pemeran.

Pilihan itu dapat dibaca melalui teori oralitas Walter Ong yang menyebut The Odyssey pada mulanya merupakan puisi lisan yang dinyanyikan dan diwariskan dari generasi ke generasi sebelum akhirnya dibukukan.

Rap yang bertumpu pada ritme, pengulangan, dan performa memiliki kedekatan dengan tradisi para rhapsode Yunani sehingga kehadiran Travis Scott menjadi simbol bahwa tradisi lisan kuno masih menemukan bentuknya di budaya populer masa kini.

Di sisi lain, keputusan Nolan menggunakan seluloid IMAX 70 mm, format yang kerap disebut sebagai standar emas proyeksi film analog dengan resolusi setara hingga 16K dan pita seluloid 15-perforasi horizontal, menghadirkan makna yang melampaui sekadar urusan teknis produksi.

Pilihan itu mengingatkan pada konsep "aura" yang dikemukakan filsuf dan kritikus budaya Walter Benjamin, yakni gagasan bahwa karya seni memiliki keunikan pengalaman yang sulit tergantikan oleh reproduksi massal.

Di tengah dominasi layanan digital, Nolan justru mengajak penonton kembali menjadikan bioskop sebagai ruang untuk mengalami film secara utuh melalui format yang dirancang khusus.

Tema kepulangan yang menjadi inti perjalanan Odysseus juga memperlihatkan kesinambungan dengan film-film Nolan sebelumnya, seperti Interstellar, yang sama-sama menempatkan perjalanan pulang kepada keluarga sebagai tujuan paling manusiawi di tengah konflik berskala besar.

Oleh karena itu, The Odyssey tidak hanya tampil sebagai blockbuster musim panas dengan teknologi mutakhir, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara mitologi klasik, teori budaya, dan sinema modern yang memperlihatkan bahwa kisah-kisah besar selalu menemukan cara baru untuk diceritakan.

Adapun film The Odyssey mengisahkan perjalanan Odysseus, Raja Ithaca, yang harus menempuh perjalanan panjang dan penuh rintangan selama bertahun-tahun untuk kembali kepada istri tercintanya, Penelope, dan putranya, Telemachus, setelah Perang Troya.

Dalam pengembaraan itu, ia menghadapi makhluk mitologi, murka para dewa, serta berbagai ujian yang menjadikan kisah tersebut sebagai salah satu epos paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Barat.



Pewarta: Naufal Ammar Imaduddin
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026