Surabaya (ANTARA) - Di balik deretan rak sayur, aroma rempah, dan sapaan akrab antarpedagang, pasar tradisional menyimpan denyut kehidupan sebuah kota.
Di sanalah harga kebutuhan pokok pertama kali bernegosiasi dengan daya beli masyarakat. Di sana pula ribuan pelaku usaha kecil menggantungkan penghidupan setiap hari.
Namun, wajah pasar rakyat di banyak kota kerap tertinggal dibanding pusat perbelanjaan modern. Atap bocor, saluran air yang kurang baik, area parkir sempit, hingga tata letak yang semrawut menjadi persoalan yang terus berulang.
Kondisi tersebut bukan sekadar mengurangi kenyamanan, tetapi perlahan menggerus daya saing pasar tradisional di tengah perubahan perilaku konsumen.
Kota Surabaya, Jawa Timur, mencoba memutus siklus itu. Pemerintah Kota Surabaya pada 2026 merevitalisasi 16 pasar tradisional dengan anggaran sekitar Rp20 miliar.
Program tersebut bukan hanya memperbaiki bangunan, melainkan juga menghadirkan sanitasi yang lebih baik, drainase, instalasi pengolahan air limbah, grease trap, sentra pemotongan unggas, penataan zonasi pedagang, hingga penambahan fasilitas pelayanan pasar.
Targetnya jelas, menciptakan pasar yang lebih bersih, higienis, nyaman, dan mampu bersaing dengan pasar modern.
Langkah tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berbicara mengenai jalan layang, gedung tinggi, atau kawasan bisnis, melainkan juga ruang ekonomi rakyat yang menjadi denyut keseharian masyarakat.
Lebih nyaman
Revitalisasi fisik merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Pasar tradisional selama bertahun-tahun menghadapi tantangan yang relatif sama. Infrastruktur yang menua membuat pengalaman berbelanja kurang nyaman. Sementara itu, konsumen semakin terbiasa dengan lingkungan belanja yang bersih, tertata, dan praktis.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 16 ribu pasar rakyat yang menjadi tempat berusaha jutaan pedagang. Pasar-pasar tersebut juga menjadi simpul distribusi bahan pangan sekaligus penggerak ekonomi daerah. Karena itu, kualitas pasar rakyat berpengaruh langsung terhadap stabilitas perdagangan dan kesejahteraan masyarakat.
Di Surabaya, revitalisasi menyasar pasar-pasar yang memiliki karakter berbeda, mulai dari Pasar Wonokromo yang menjadi pusat perdagangan besar, Pasar Genteng yang memiliki sejarah panjang, hingga pasar-pasar lingkungan yang melayani kebutuhan harian warga.
Perbaikan sanitasi menjadi salah satu aspek paling penting. Pengalaman pandemi COVID-19 telah mengubah cara masyarakat memandang kebersihan ruang publik. Pasar yang kumuh tidak lagi sekadar persoalan estetika, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat.
Penambahan instalasi pengolahan air limbah dan grease trap menjadi langkah strategis agar limbah pasar tidak mencemari lingkungan sekitar. Begitu pula keberadaan sentra pemotongan unggas yang lebih higienis dapat meningkatkan standar keamanan pangan.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penataan zonasi pedagang. Pengelompokan komoditas membuat arus pengunjung menjadi lebih efisien sekaligus mengurangi potensi pasar tumpah yang selama ini sering mengganggu lalu lintas.
Revitalisasi semacam ini pada dasarnya sedang membangun pengalaman berbelanja yang lebih baik. Konsumen tidak hanya mencari harga murah, tetapi juga kenyamanan, keamanan, dan kepastian kualitas produk.
Lebih hidup
Meski demikian, revitalisasi fisik bukan tujuan akhir. Banyak pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bangunan pasar yang baru belum tentu otomatis meningkatkan aktivitas perdagangan.
Tantangan terbesar justru muncul setelah proyek selesai. Bagaimana memastikan pasar tetap ramai, lapak terisi, pedagang bertahan, dan konsumen kembali datang menjadi pekerjaan yang jauh lebih kompleks dibanding membangun gedung.
Laporan Bank Dunia mengenai pengembangan pasar tradisional di berbagai negara berkembang menunjukkan keberhasilan revitalisasi sangat dipengaruhi oleh tata kelola, pengelolaan operasional, dan kemampuan pasar beradaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen.
Kini masyarakat memiliki banyak pilihan berbelanja. Supermarket menawarkan kenyamanan. Minimarket hadir hingga ke lingkungan permukiman. Platform perdagangan digital bahkan mampu mengantar kebutuhan pokok langsung ke rumah.
Artinya, pasar rakyat tidak lagi hanya bersaing dengan sesama pasar tradisional. Kompetitor mereka jauh lebih beragam.
Karena itu, modernisasi pasar perlu dilanjutkan dengan modernisasi pengelolaan. Digitalisasi pembayaran menggunakan QRIS, informasi harga secara daring, promosi melalui media sosial, hingga layanan pemesanan daring bagi pelanggan tetap dapat menjadi bagian dari transformasi berikutnya.
Di beberapa kota, konsep pasar hibrida mulai berkembang. Konsumen dapat datang langsung ataupun memesan melalui aplikasi. Pedagang tetap berjualan secara konvensional, tetapi memperoleh tambahan pasar melalui kanal digital.
Pendekatan seperti itu sangat relevan bagi Surabaya sebagai kota metropolitan yang memiliki tingkat penetrasi internet tinggi serta masyarakat yang semakin akrab dengan transaksi digital.
Tidak kalah penting adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pedagang membutuhkan pendampingan mengenai pengemasan produk, pelayanan pelanggan, pencatatan keuangan sederhana, hingga pemasaran digital.
Modernisasi tanpa peningkatan kemampuan pelaku usaha hanya akan menghasilkan bangunan baru dengan pola bisnis lama.
Lebih bermakna
Pasar rakyat sesungguhnya memiliki nilai yang tidak dimiliki pusat perbelanjaan modern. Di dalamnya terdapat interaksi sosial, budaya tawar-menawar, hubungan emosional antara pedagang dan pembeli, serta ruang tumbuh bagi usaha mikro.
Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang perlu dipertahankan di tengah modernisasi.
Revitalisasi pasar juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap pembangunan kota. Pasar yang tertata mampu mengurangi kemacetan akibat pasar tumpah, memperbaiki kualitas lingkungan, meningkatkan keamanan pangan, sekaligus mendukung pengendalian inflasi melalui distribusi bahan pokok yang lebih efisien.
Badan Pusat Statistik secara konsisten menunjukkan bahwa kelompok makanan menjadi penyumbang utama inflasi. Dalam konteks tersebut, pasar rakyat berperan penting sebagai simpul distribusi yang menjaga stabilitas harga sekaligus mempertemukan produsen dengan konsumen.
Di sisi lain, keberhasilan revitalisasi dapat menjadi pengungkit ekonomi lokal. Pasar yang bersih dan nyaman akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk kembali berbelanja. Meningkatnya jumlah pengunjung berarti bertambah pula perputaran uang yang dinikmati pedagang kecil.
Ke depan, keberhasilan program ini sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah pasar yang selesai dibangun atau besarnya anggaran yang terserap. Indikator yang lebih penting adalah meningkatnya jumlah pengunjung, bertambahnya omzet pedagang, membaiknya kualitas sanitasi, menurunnya pasar tumpah, serta meningkatnya kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pasar.
Revitalisasi juga perlu disertai evaluasi berkala agar investasi publik benar-benar memberikan manfaat jangka panjang. Kolaborasi pemerintah, pengelola pasar, pedagang, akademisi, dan masyarakat akan menjadi kunci menjaga keberlanjutan hasil pembangunan.
Surabaya sedang menunjukkan bahwa pasar tradisional tidak harus kalah oleh zaman. Dengan pembenahan fisik yang disertai pengelolaan modern, digitalisasi, dan pemberdayaan pedagang, pasar rakyat dapat kembali menjadi ruang ekonomi yang kompetitif sekaligus ruang sosial yang hangat.
Merawat pasar bukan sekadar mempercantik bangunan. Yang sedang dijaga adalah ekosistem ekonomi rakyat, ketahanan pangan kota, dan ruang perjumpaan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari identitas Surabaya.
Ketika pasar kembali hidup, yang bertumbuh bukan hanya aktivitas perdagangan, melainkan juga optimisme bahwa pembangunan kota tetap berpihak kepada masyarakat yang menjadi fondasinya.
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.