Banyuwangi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur, memetakan risiko mengenai persoalan siswa mulai ekonomi termasuk masalah sosial lainnya selama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
"Pesan Ibu Bupati, sekolah harus memetakan risiko sejak awal, karena bisa jadi ada anak yang memiliki persoalan ekonomi, masalah sosial atau menjadi pelaku maupun korban perundungan. Semua itu harus dipetakan sejak awal tahun ajaran," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Alfian, di Banyuwangi, Senin.
Dia menyampaikan bahwa secara nasional MPLS 2026 mengusung tema MPLS Ramah, yang artinya ramah kurikulum, ramah lingkungan baru, ramah warga sekolah baru, dan lainnya.
Alfian menekankan harus dipastikan bahwa di semua satuan pendidikan dalam proses penyambutan anak-anak pada hari pertama sampai selesai MPLS ini, semua harus dilakukan dengan cara-cara yang humanis.
"MPLS di setiap jenjang pendidikan maksimal dilakukan selama lima hari, dan kami juga meminta hasil dari MPLS ini ditindaklanjuti dengan kunjungan ke rumah orang tua siswa agar terjalin komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga," ujar dia.
Salah seorang guru Sekolah Dasar Negeri 4 Penganjuran menjelaskan masa pengenalan lingkungan sekolah berlangsung selama lima hari dengan materi yang berbeda setiap harinya.
"Pada hari pertama siswa diajak mengenal lingkungan sekolah serta bapak dan ibu guru agar tidak merasa takut dan canggung. Kami ingin anak-anak merasa bahagia, aman, nyaman, dan berani karena peralihan dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar cukup mengejutkan bagi mereka," tuturnya.
Pewarta: Novi HusdinariyantoEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.