Sidoarjo (ANTARA) - ‎Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono mendorong percepatan penanganan lumpur Lapindo di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur, menyusul rembesan yang muncul di sisi barat tanggul penahan lumpur.

"Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi mengancam keselamatan masyarakat serta mengganggu jalur transportasi nasional, termasuk jalan arteri dan rel kereta api," katanya saat meninjau tanggul Lumpur Lapindo, Senin.

‎Ia mengatakan, pemerintah harus segera mempercepat pembuangan air lumpur ke Sungai Porong, memperkuat tanggul penahan, serta memasang sistem peringatan dini (early warning system). Menurutnya, kawasan sekitar terdampak dihuni ribuan warga yang harus mendapat perlindungan maksimal dari potensi bencana. 

‎"Keselamatan publik tidak bisa ditawar. Untuk melindungi nyawa masyarakat tidak boleh ada hitung-hitungan anggaran. Early warning system harus segera dipasang dan seluruh tanggul harus diperkuat," ujarnya.

‎Ia juga menyoroti pengurangan anggaran penanganan lumpur dari Rp227 miliar menjadi Rp169 miliar. Sehingga, meminta Kementerian Pekerjaan Umum mengevaluasi kebijakan tersebut apabila berdampak pada penanganan lumpur. 

‎"Kalau pengurangan anggaran menghambat pembuangan lumpur, ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai efisiensi justru mengorbankan keselamatan masyarakat," katanya.

‎Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana menyampaikan apresiasi atas perhatian DPR RI terhadap persoalan lumpur Lapindo yang hingga kini masih menjadi ancaman bagi warga sekitar. Ia berharap solusi penanganan segera direalisasikan agar masyarakat tidak kembali mengalami dampak seperti bencana dua dekade lalu. 

‎"Kami berharap solusi segera dijalankan, agar warga Sidoarjo benar-benar merasa aman," ujarnya.

‎Ketua Tim Perencanaan Teknis Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Firman menjelaskan penurunan muka tanah di kawasan tanggul rata-rata mencapai sekitar 0,5 meter per tahun, meski nilainya bervariasi di setiap titik.

"Salah satu lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi berada di titik P10D, tempat rembesan lumpur baru-baru ini terjadi," katanya.‎



Pewarta: Indra Setiawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026