Ponorogo (ANTARA) - Awalnya aku menolak. Lewat penolakan, kemudian tumbuh cinta. Dengan semua lika-liku indah yang telah aku lalui, membawaku ke arah tujuan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Penolakan bukan sekadar tidak menerima apa yang menurut kita tidak sesuai. Penolakan adalah jalan penerimaan yang tertunda, sesuai kehendak-Nya. Begitulah aku dan profesiku yang bermula dari penolakan dan akhirnya berlabuh pada kecintaan.
Ada ironi yang baru kupahami setelah menjalaninya. Profesi guru adalah satu-satunya jalan yang selama bertahun-tahun justru ingin kuhindari. Bagiku, saat itu, bekerja di dunia korporasi adalah impian. Kesempatan berkarir di perusahaan BUMN, hingga perbankan, dengan penghasilan yang menjanjikan pernah menjadi pemandu pikiran dalam membuat tolok ukur kesuksesan. Di benakku, profesi guru selalu kalah jika dibandingkan dengan besarnya gaji dan gemerlap dunia kerja yang telah aku alami sebelumnya.
Hidup memiliki cara yang unik untuk menunjukkan arah. Semakin keras aku menolak menjadi guru, semakin sering pula kesempatan itu datang menghampiri. Jalan demi jalan seolah dimudahkan, hingga akhirnya aku menerima profesi yang dulu enggan kupilih.
Hari ini pandanganku berubah sepenuhnya. Guru bukan lagi tentang besarnya penghasilan, melainkan tentang besarnya makna. Di setiap ruang kelas, aku menemukan kesempatan untuk menyalakan harapan para murid menumbuhkan mimpi dan menjadi bagian dari masa depan banyak anak.
Dari situlah aku belajar bahwa keberkahan tidak selalu diukur dengan angka, tapi dari manfaat yang terus tumbuh.
Menjadi guru bukanlah pilihan yang kutentukan sendiri, melainkan takdir yang Tuhan persiapkan. Profesi yang dahulu kutolak, justru menjadi tempatku pulang, bertumbuh, dan mencintai setiap prosesnya.
Perjalanan itu mengajarkanku bahwa menjadi guru bukan sekadar menjalankan satu pekerjaan, melainkan menjalani panggilan kehidupan, bahkan panggilan keilahian.
Aku mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran, tetapi tentang menghadirkan diri sebagai manusia yang mampu menginspirasi manusia lainnya. Di ruang kelas, guru tidak hanya mengajarkan konsep dan teori, tetapi juga membentuk cara berpikir, karakter, serta nilai-nilai yang akan dibawa murid sepanjang hidupnya.
Ki Hadjar Dewantara pernah mengingatkan, "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah." Kalimat itu menyadarkan bahwa hakikat guru tidak berhenti pada profesi, melainkan satu peran yang menghadirkan keteladanan. Seorang guru bukan hanya didengar melalui kata-katanya, tetapi lebih banyak ditiru melalui sikap dan perilakunya. Kualitas pribadi seorang guru akan selalu menjadi pembelajaran yang paling nyata bagi murid-muridnya.
Kesadaran itulah yang perlahan mengubah cara pandangku terhadap profesi ini. Dahulu aku memandang guru dari sisi materi, kini aku melihatnya dari sisi kebermanfaatan. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat seorang murid yang awalnya tidak percaya diri kemudian berani tampil di depan kelas, ketika anak yang sebelumnya kesulitan memahami materi akhirnya mampu menyelesaikan tugasnya sendiri, atau ketika mereka datang hanya untuk mengucapkan terima kasih karena merasa dihargai.
Barangkali, inilah bentuk "gaji" yang tidak pernah tercantum dalam slip penghasilan, tetapi selalu memenuhi ruang hati seorang pendidik.
Dalam dunia pendidikan modern, guru tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Teknologi telah membuka akses informasi tanpa batas. Satu hal yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI) maupun mesin adalah sentuhan kemanusiaan. Guru hadir sebagai pembimbing, fasilitator, motivator, sekaligus teladan yang membantu murid menemukan makna dari setiap pengetahuan yang mereka pelajari.
Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Paulo Freire yang menyatakan bahwa pendidikan bukanlah proses mengisi "wadah kosong", melainkan proses memanusiakan manusia. Pendidikan yang sesungguhnya membangkitkan kesadaran, membangun karakter, dan melahirkan manusia yang mampu memberi manfaat bagi lingkungannya.
Maka, cinta menjadi fondasi utama dalam profesi guru. Cinta membuat guru tetap sabar menghadapi keberagaman karakter peserta didik. Cinta membuat guru tidak mudah menyerah ketika hasil belajar belum sesuai harapan. Cinta pula yang mendorong guru terus belajar agar mampu mengikuti perubahan zaman. Tanpa cinta, mengajar hanya menjadi rutinitas. Dengan cinta, setiap pembelajaran berubah menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Gagasan tersebut juga selaras dengan konsep Pendidikan Berbasis Cinta yang mulai digaungkan dalam kebijakan pendidikan nasional. Pendidikan tidak cukup menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus melahirkan manusia yang memiliki empati, kepedulian, integritas, serta kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman. Kecerdasan tanpa karakter hanya akan melahirkan manusia yang pandai, tetapi belum tentu bijaksana.
Sebagai guru muda, aku menyadari bahwa tantangan pendidikan hari ini jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Murid hidup berdampingan dengan media sosial, kecerdasan buatan, dan banjir informasi yang tidak selalu menyuguhkan fakta benar.
Mereka membutuhkan sosok yang mampu menjadi kompas moral, sekaligus sahabat belajar. Di sinilah guru memiliki peran strategis, bukan hanya mengajarkan apa yang harus dipelajari, tetapi juga mengajarkan bagaimana belajar, bagaimana berpikir kritis, bagaimana menghargai orang lain, serta bagaimana menjadi manusia yang berkarakter.
UNESCO melalui empat pilar pendidikan "learning to know, learning to do, learning to live together", dan "learning to be", menegaskan bahwa pendidikan harus membentuk manusia secara utuh. Keempat pilar tersebut sesungguhnya hanya dapat diwujudkan apabila guru mengajar dengan hati. Sebab pembelajaran yang menyentuh pikiran, sekaligus perasaan akan lebih bermakna dibandingkan sekadar mengejar capaian akademik.
Indonesia Emas 2045 juga tidak akan terwujud hanya dengan kecanggihan teknologi atau pembangunan infrastruktur. Generasi emas lahir dari ruang-ruang kelas yang dipenuhi guru-guru yang mencintai profesinya. Guru yang mampu melihat potensi, bukan sekadar kekurangan. Guru yang lebih banyak memberi harapan daripada hukuman. Guru yang percaya bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk berhasil sesuai jalannya masing-masing.
Kini aku memahami mengapa Tuhan menghadirkanku pada profesi ini. Mungkin jika dulu seluruh keinginanku dikabulkan, aku hanya akan menjadi seseorang yang mengejar kesuksesan untuk diriku sendiri. Melalui profesi guru, aku diberi kesempatan untuk ikut membangun kesuksesan banyak orang.
Setiap ilmu yang kubagikan, setiap motivasi yang kusampaikan, dan setiap doa yang kupanjatkan untuk murid adalah investasi yang kelak akan kembali dalam bentuk kebermanfaatan yang jauh lebih besar.
Akhirnya aku percaya bahwa takdir Tuhan selalu lebih indah daripada rencana manusia. Penolakan yang dahulu kuanggap sebagai kegagalan, ternyata hanyalah jalan panjang menuju tempat terbaik yang telah dipersiapkan-Nya. Hari ini aku tidak lagi bertanya mengapa harus menjadi guru. Aku justru bersyukur karena dipilih untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak anak menuju masa depan mereka.
Pada akhirnya, menjadi guru bukan tentang seberapa banyak materi yang selesai diajarkan, melainkan seberapa banyak kehidupan yang berhasil disentuh dan diubah menjadi lebih baik. Disitulah aku menemukan makna cinta yang sesungguhnya, cinta yang tidak hanya mengubah cara pandangku terhadap profesi guru, tetapi juga mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.
*) Resti Aji P adalah guru Manajemen Perkantoran SMKN 1 Ponorogo
Pewarta: Resti Aji P *)Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.