Ponorogo (ANTARA) - Kuntiana yang sebelumnya tampak ceria, tiba-tiba menunduk, lalu mengusap matanya dengan ujung jilbab. Dia tidak mampu menjelaskan lebih lengkap ketika membahas cara menulis artikel mengenai pengalaman mengasuh anak yang berkebutuhan khusus.
Adegan mengharukan itu terjadi ketika para guru dan siswa SMKN 1 Ponorogo, Jawa Timur, mengikuti kegiatan SuperCamp Literasi yang dilaksanakan di Markas Sutejo Spektrum Center (SSC), Ponorogo, Senin (6/7).
Kuntiana tidak mampu membendung air matanya, ketika mengemukakan bahwa anak berkebutuhan khusus yang hendak menjadi tema tulisannya itu adalah anak kandungnya.
Pada hari kedua, Selasa (7/7), semua guru yang menjadi peserta pelatihan harus menyetor karyanya. Artikel karya Kuntiana itu mampu mengungkap pengalaman mengasuh dengan detail dan gaya penuturan yang hidup.
Guru lainnya, Yuli Lapan, menceritakan pengalaman masa lalunya yang penuh kepedihan, setelah ditinggal mati ibunya. Saat SLTA, Yuli sempat putus sekolah, kemudian menjadi gelandangan dan setiap malam tidur di emperan warung makan di dalam pasar di Kota Madiun.
Guru perempuan berpenampilan ceria ini kemudian ditemukan oleh saudara sepupunya. Karena keterbatasan ekonomi, keluarga terdekatnya tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan kembali Yuli.
Keberuntungan berpihak pada guru yang pernah mendapat beasiswa menempuh pendidikan singkat di Amerika Serikat ini. Dia diangkat anak oleh seorang dermawan di Ponorogo dan didaftarkan kembali ke sekolah. Dengan dukungan orang tua asuh, perempuan mantan gelandangan itu menempuh pendidikan tinggi, hingga kemudian menjadi guru.
Pada pelatihan yang diikhtiarkan mengisi hari libur dengan kegiatan positif itu, Yuli menuturkan kisah masa lalunya lewat cerita pendek (cerpen). Untuk kisah hidupnya secara lengkap, ia sudah menulis banyak dalam format novel yang siap diterbitkan.
Ketika bercerita mengenai konsep novel kisah hidupnya yang tinggal mengedit ulang, kemudian diterbitkan, Yuli sempat ragu karena takut ada penolakan atau menyinggung beberapa pihak.
"Alhamdulillah, setelah bertemu mentor yang mengampu pelatihan menulis ini, saya lega. Kekhawatiran akan penolakan atas cerita dalam novel saya nanti, sekarang tidak ada lagi . Tinggal bagaimana mengoreksi ulang konsep novel tersebut," kata guru yang di sekolah juga menjadi penggerak bagi siswa untuk biasa membaca dan menulis itu.
Sementara Weny Fibrianti mengangkat tema mengenai perjalanan hidupnya yang berjauhan dengan suami. Di sela menjalankan tugas sebagai pendidik, dia sering menjadi orang tua tunggal bagi dua anaknya.
Dia menuangkan pengalaman hidup berjauhan dengan suami, dengan tujuan untuk berbagi inspirasi kepada masyarakat lain yang memiliki pengalaman hidup serupa.
Dalam artikel yang ditulisnya, dia mengetengahkan beberapa kunci dalam menjalani kehidupan saling berjauhan itu, yakni komunikasi yang harus terus dipelihara, keyakinan bahwa semuanya baik-baik saja, dan saling percaya satu dengan yang lain.
Kisah hidup Kuntiana, Yuli Lapan, dan Weny Fibrianti itu menggambarkan bahwa pengalaman masing-masing orang merupakan "sumur tanpa dasar" untuk digali sebagai bahan menulis, baik artikel, cerpen, maupun novel.
Hanya saja, sering kali seseorang terjebak pada rasa kurang percaya diri dan khawatir tulisannya tidak menarik bagi pembaca.
Padahal, ketika kisah itu ditulis dengan teknik penuturan yang menghibur, malah menjadi inspirasi bagi pembaca untuk belajar dari pengalaman penulis artikel.
"Karena itu jangan pernah menganggap sepele ide yang akan kita tulis. Sebagaimana disampaikan penulis besar Pramoedya Ananta Toer, menulis ya menulis saja," kata Sutejo, yang menjadi mentor dalam kegiatan itu bersama dengan Redaktur Karangan Khas (Karkhas) LKBN ANTARA Masuki M. Astro.
Menulis, sejatinya tidak memerlukan teori-teori yang menumpuk, apalagi hanya dihafalkan.
Menulis adalah keterampilan yang harus terus menerus dilatih. Teori, sebaiknya hanya diposisikan sebagai pemantik awal untuk memotivasi diri.
Modal bagi guru
Apa pentingnya keterampilan menulis bagi seorang guru? Bagi guru, kemampuan menulis menjadi modal untuk menggerakkan siswa agar gemar membaca, lalu kemudian ikut menulis.
Persoalan rendahnya minat baca di kalangan anak muda, khususnya siswa, tidak bisa semata-mata hanya ditumpukan kepada siswa. Guru juga ikut bertanggung jawab menanggung kondisi ini. Kalau guru saja tidak punya minat untuk membaca, bagaimana berharap murid-murid melakukan hal itu?
Kepala SMKN 1 Ponorogo Joko Wilis Putri, MPd memberikan dukungan pada kegiatan literasi dengan memanfaatkan waktu libur untuk diisi dengan kegiatan yang positif.
"Lewat kegiatan ini, kami berharap menjadi kontribusi, seberapapun besarnya, bagi upaya bersama bangsa kita untuk menumbuhkan minat baca. Apalagi pilihan pelatihannya di Sutejo Spektrum Center atau SSC yang sudah teruji komitmennya dalam menggerakkan budaya baca dan menulis," katanya.
Kegiatan pendampingan dalam menulis di SSC telah beberapa kali dilakukan dengan sejumlah sekolah maupun perguruan tinggi, dengan format penyampaian pengantar mengenai pemahaman teknis dalam menulis, kemudian dilanjutkan dengan praktik. Hasil praktik kemudian dievaluasi oleh narasumber untuk dipelajari bersama para peserta.
Untuk pelatihan dengan peserta para guru dan sejumlah tenaga kependidikan, serta sejumlah siswa di SMKN 1 Ponorogo ini, semua karya yang dianggap layak akan diterbitkan menjadi buku.
Koordinator kegiatan literasi SMKN 1 Ponorogo Sri Wahyuningsih mengaku terharu dan tidak menyangka para begitu antusias mengikuti pelatihan. Keterbukaan para guru menceritakan pengalaman pribadi untuk menjadi bahan menulis menjadi modal mereka untuk terus berkarya.
"Betul-betul di luar dugaan. Semangat para guru membuat kami ikut semakin semangat untuk terus menggerakkan literasi. Terima kasih kepada para narasumber yang dengan sepenuh hati membersamai para guru belajar," kata guru yang beberapa kali menjadi juara lomba menulis itu.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.