Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendukung penerapan kurikulum pendidikan berbasis industri untuk mengatasi kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan kerja.
"Kebutuhan industri, terutama di bidang teknologi informasi, berkembang sangat cepat, sementara perubahan kurikulum membutuhkan waktu yang panjang," kata Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto dalam keterangan di Surabaya, Jatim, Minggu.
Adik menuturkan harmonisasi kurikulum akan memberikan manfaat bagi dunia pendidikan maupun industri karena lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dengan proses magang berjalan efektif karena materi kampus dan sekolah sesuai kebutuhan industri.
Ia mengatakan pihaknya melalui Kadin Institute akan mengajarkan harmonisasi kurikulum kepada industri guna memperkuat penyusunan kurikulum pendidikan vokasi yang benar-benar berbasis kebutuhan industri.
Adik menyebutkan upaya ini salah satunya dilakukan bersama Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact) dengan menyiapkan fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA) dengan menggelar pelatihan Industry-based Curriculum (IBC).
Pelatihan pembentukan fasilitator JOA menjadi tahapan awal untuk mencetak tenaga yang mampu melakukan analisis mendalam terhadap suatu okupasi atau jabatan.
Analisis tersebut meliputi tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, tren pekerjaan di masa depan (future trend), persyaratan dasar (basic requirement), hingga berbagai informasi lain yang berkaitan dengan kompetensi pekerja.
Adik menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi sedikitnya 10 perusahaan bersama mitra pendidikannya.
Dengan 10 fasilitator yang mengikuti pelatihan angkatan pertama, ia optimistis program ini dapat menjangkau sekitar 100 industri pada tahap awal sebelum diperluas ke seluruh daerah di Jawa Timur.
"Kami juga akan membekali Kadin kabupaten dan kota agar memiliki kemampuan yang sama sehingga semakin banyak sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki kurikulum sesuai kebutuhan dunia kerja," ujarnya.
Senior Program Officer VET Development Swisscontact Ilham Hasbiullah menjelaskan fasilitator yang dilatih akan memiliki peran penting dalam menghasilkan dokumen analisis okupasi yang menjadi dasar penyusunan kurikulum pendidikan vokasi.
Ia menekankan hasil JOA akan menjadi rujukan dalam menyusun kurikulum di berbagai jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), perguruan tinggi, hingga lembaga pelatihan kerja.
Setelah menyelesaikan pelatihan dasar, peserta tidak langsung berhenti pada pembelajaran di kelas karena mereka akan mengikuti tahap JOA bersama para praktisi industri agar kompetensi benar-benar teruji.
Ilham mengungkapkan selama ini penyusunan kurikulum umumnya masih dimulai dari institusi pendidikan, kemudian baru diverifikasi oleh industri.
Pola tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab terjadinya kesenjangan kompetensi atau skill mismatch antara lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Di sisi lain, menurut dia, apabila ingin mengurangi skill mismatch maka prosesnya harus dibalik yakni analisis pekerjaan dilakukan terlebih dahulu di industri baru hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum.
Pewarta: Astrid Faidlatul HabibahUploader : Abdullah Rifai
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.