Surabaya (ANTARA) - Istri Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Hj. Lelly Lailiyah Novianti, resmi menyandang gelar doktor di Universitas Airlangga (Unair) setelah menyelesaikan ujian doktor terbuka di Surabaya, Jawa Timur, Selasa.
Lelly menyelesaikan studi doktor pada Program Studi Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Unair dengan disertasi berjudul Nilai-Nilai Qonun Asasi Nahdlatul Ulama (NU) dalam Politik Hukum Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045.
Ia lulus dengan predikat cumlaude dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,97 dalam masa studi dua tahun 10 bulan. Ia juga tercatat sebagai doktor pertama Program Studi Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Unair.
Dalam penelitiannya, Lelly menawarkan konsep penguatan pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan sebagai fondasi pengembangan SDM menuju Indonesia Emas 2045.
Penelitian itu menggunakan model Qonun Asasi NU yang memuat 22 nilai utama dalam tiga dimensi, yakni keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan. Dimensi keagamaan meliputi tauhid, integritas moral, kejujuran, keikhlasan, keberanian, kesabaran, toleransi, moderasi, harmoni, akhlak mulia, adab, dan etika.
“Integrasi 22 nilai Qonun Asasi NU dalam TRI VeHTI model menjadi kerangka pengembangan SDM Pesantren yang holistic, adaptif, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” tutur istri Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) tersebut.
Sementara itu, dimensi pendidikan mencakup kebenaran, keilmuan, inklusivitas, profesionalisme, dan dakwah. Adapun dimensi kebangsaan meliputi kepemimpinan, demokrasi, kerja sama, musyawarah, persaudaraan, kekeluargaan, dan keadilan.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa karakter santri lebih banyak dibangun melalui keteladanan kiai, kehidupan di asrama, organisasi santri, dan pengabdian kepada masyarakat. Pembelajaran formal menjadi penting, tetapi internalisasi nilai berlangsung lebih efektif melalui praktik kehidupan sehari-hari," kata Lelly.
Menurut Lelly, penelitian tersebut juga menghasilkan model pendidikan pesantren berbasis Qonun Asasi NU melalui integrasi ilmu pengetahuan dan nilai agama, pembiasaan karakter dalam aktivitas harian, evaluasi berbasis akhlak, penguatan kemandirian, kepedulian sosial, serta moderasi beragama.
"Indonesia Emas 2045 membutuhkan SDM yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, moderasi beragama, jiwa kepemimpinan, serta kepedulian sosial," katanya.
Ia menambahkan, nilai-nilai dalam Qonun Asasi NU memberikan fondasi yang kuat untuk mewujudkan tujuan tersebut tanpa menghilangkan kekhasan pendidikan pesantren.
Selain menawarkan model pendidikan pesantren, penelitian tersebut juga menghasilkan instrumen evaluasi karakter santri yang diharapkan dapat memperkuat sistem pendidikan pesantren sekaligus mendukung pembangunan SDM Indonesia.
“Saya berharap penerapan modul Qonun Asasi tidak hanya diterapkan di pesantren tapi juga bisa tersebar di seluruh lini pendidikan. Karena bagi saya konsep ini bisa masuk dalam segala lini pendidikan dan bersifat universal," ujarnya.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.