Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendukung perluasan digitalisasi bantuan sosial (bansos) di delapan daerah sebagai upaya memperluas transformasi layanan berbasis digital serta meningkatkan ketepatan sasaran dan efisiensi penyaluran bantuan secara berkelanjutan di provinsi itu.

Khofifah saat menghadiri Rapat Koordinasi Monitoring Perluasan Piloting Digitalisasi Bantuan Sosial di 43 kabupaten/kota di Kementerian Dalam Negeri RI, Jakarta, Selasa, mengatakan empat daerah di Jawa Timur yang telah ditetapkan sebagai daerah percontohan digitalisasi bansos, yakni Kota Surabaya, Kota Mojokerto, Kota Malang, dan Kabupaten Banyuwangi.



"Kami menyampaikan terima kasih bahwa ada empat daerah di Jawa Timur yang diikutkan dalam piloting project ini. Kami sebetulnya berharap, kalau memungkinkan, kita mencoba perluasan ke Madiun, Gresik, Sidoarjo, dan Kota Probolinggo," ujarnya dalam keterangan diterima di Surabaya, Selasa.

Menurut dia, keberhasilan pelaksanaan di empat daerah tersebut menjadi modal penting untuk memperluas implementasi program ke wilayah lain di Jawa Timur yang memiliki kesiapan infrastruktur digital dan ekosistem pemerintahan memadai.

"Kalau bisa menjadi bagian dari proses digitalisasi bansos ini, rasanya kami siap mendorong dan meluaskan. Kita di Jatim ada 38 kota/kabupaten. Jadi, kalau sebelumnya empat, bolehlah kami ditambah empat lagi jadi delapan. Insya Allah, kita siap bekerja keras untuk mewujudkan program di sini," katanya.

Khofifah menilai perluasan digitalisasi bansos juga harus dibarengi dengan penguatan kualitas data penerima manfaat guna meminimalkan kesalahan penerima (inclusion error) maupun masyarakat yang seharusnya menerima bantuan, tetapi belum tercatat (exclusion error).



"Potensi inclusion error dan exclusion error ini seterusnya akan terus jadi kalau unregistered people tidak diselesaikan. Itu data yang belum terverifikasi di Jawa Timur. Nah, data yang belum terverifikasi ini akan potensial menjadi exclusion error," ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut dia, siap memperkuat pemutakhiran data agar basis data penerima bantuan sosial semakin akurat dan tepat sasaran.

Khofifah menyampaikan sejumlah pengalaman lapangan terkait dukungan bagi pilar sosial di daerah yang terdampak kebijakan efisiensi anggaran serta mekanisme pembukaan rekening penerima bantuan sosial.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan digitalisasi bansos merupakan bagian dari percepatan transformasi digital pemerintahan atau Government Technology (GovTech) untuk menghadirkan layanan publik yang lebih efektif, transparan, dan terintegrasi.

"Kali ini rencananya kita melebar ke 43 kabupaten/kota. Saya pikir untuk Jawa Timur, poin yang penting adalah menambah daerah piloting digitalisasi bansos ini. Ini juga berkoordinasi dengan Pak Luhut (Ketua Dewan Ekonomi Nasional), saya selaku Menteri Dalam Negeri mendukung beliau untuk mengoordinasikan teman-teman pemerintah daerah dan seluruh pimpinan lembaga terkait agar mendukung langkah-langkah percepatan yang dipimpin oleh beliau," katanya.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan evaluasi program akan dilakukan hingga akhir Juli 2026 sebagai persiapan peluncuran nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada Oktober mendatang.

Menurut Luhut, digitalisasi bansos yang terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi meningkatkan efisiensi tata kelola pemerintahan.

"Kalau ini jadi, kami sudah lapor ke Presiden, kita bisa menghemat lebih dari Rp1.500 triliun. Tax ratio kita yang sekarang sekitar 9 persen secara bertahap bisa naik menjadi 11, 12, bahkan 13 persen seperti negara-negara ASEAN. Karena itu, kita harus kompak, menjalankan program ini secara bertahap, bertingkat, dan berkelanjutan agar benar-benar bisa diwujudkan dengan baik," katanya.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026