Kediri (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, Jawa Timur, memberikan edukasi kecakapan finansial bagi perempuan dengan program Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan (Sicantik).
Ketua TP PKK Kota Kediri Faiqah Azizah Muhammad Qowimuddin mengatakan literasi keuangan menjadi bekal penting bagi masyarakat di tengah semakin mudahnya akses terhadap berbagai layanan keuangan, mulai dari pinjaman daring hingga investasi digital.
“Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan layanan keuangan berlangsung sangat cepat dan semuanya terasa semakin mudah diakses. Karena itu, literasi keuangan menjadi sangat penting," katanya dalam acara yang digelar di GOR Jayabaya Kota Kediri, Rabu.
Faiqah mengatakan kegiatan edukasi ini tidak hanya menambah wawasan peserta, tetapi juga diharapkan mampu menghadirkan kebiasaan- kebiasaan baik yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan itu mulai dari menyusun perencanaan keuangan keluarga, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyiapkan dana darurat, hingga lebih teliti sebelum menggunakan layanan keuangan yang belum jelas legalitasnya.
Dia juga berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti pada diri masing-masing, melainkan dapat disebarluaskan kepada kader PKK, keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar.
“Saya berharap ibu-ibu dapat menjadi perpanjangan tangan untuk berbagi informasi dan edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu, semakin banyak warga yang memahami cara mengelola keuangan secara aman, cerdas, dan bertanggung jawab,” kata dia.
Kepala OJK Kediri Ismirani Saputri mengungkapkan tingkat inklusi dan literasi keuangan masyarakat Indonesia masih menunjukkan kesenjangan yang cukup signifikan.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru, tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 80,51 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan berada di angka 66,46 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang telah menggunakan produk dan layanan keuangan, tetapi belum memahami risiko yang menyertainya.
Selain itu, kesenjangan juga masih terlihat pada indeks literasi dan inklusi keuangan. Literasi keuangan laki-laki tercatat sebesar 67,32 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan sebesar 65,58 persen.
"Kami ingin mengajak ibu-ibu untuk terus meningkatkan pemahaman dan literasi keuangan. Melalui kegiatan ini, kami menyampaikan bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik, mengenali dan menghindari aktivitas keuangan ilegal, serta menjadi pengguna teknologi yang cerdas," kata dia lagi.
Ia pun menambahkan bahwa ibu-ibu pun juga harus bijak dalam menentukan aplikasi atau tautan yang aman untuk diakses dan diunduh melalui gawai.
Kegiatan ini diikuti 125 orang pengurus dan anggota PKK Kota Kediri. Melalui program Sicantik ini, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan keluarga, penggunaan produk dan layanan keuangan secara bijak, serta upaya menghindari berbagai aktivitas keuangan ilegal yang marak terjadi di era digital.
Salah seorang peserta Wanti mengatakan edukasi literasi keuangan ini sangat penting bagi perempuan karena mereka merupakan pilar utama dalam mengelola keuangan keluarga.
Ketika seorang ibu memiliki kemampuan finansial yang baik, maka dampak positifnya akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Sebagai pengurus PKK tingkat RW, dirinya siap untuk menyebarluaskan informasi yang diperoleh kepada masyarakat melalui forum pleno di tingkat kelurahan.
“Harapannya, ibu-ibu semakin cakap dan bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut karena sangat bermanfaat bagi masyarakat,” kata anggota Pokja I Kelurahan Dandangan Kota Kediri ini pula.
Pewarta: Asmaul ChusnaEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.