Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo, Jawa Timur, memastikan ketersediaan atau stok bahan bakar minyak (BBM) di daerah ini masih dalam kondisi aman, dan mengusulkan tambahan kuota biosolar karena terjadi peningkatan kebutuhan BBM ini.
"Pemkab Probolinggo bahkan telah mengajukan usulan penambahan kuota biosolar sebesar 30 persen kepada Pertamina dan pihak terkait," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo M Sjaiful Efendi, usai melakukan pemantauan langsung ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di kabupaten setempat, Rabu.
Kegiatan monitoring diawali di SPBU Kebonagung Kecamatan Kraksaan. Di lokasi itu, tim dari UPT Metrologi Legal Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo melakukan pengujian sekaligus tera ulang terhadap dispenser BBM jenis pertamax.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan di Kecamatan Kraksaan, rombongan melanjutkan pemantauan ke SPBU 54.672.07 Paiton. Di lokasi kedua itu, pengawasan difokuskan pada BBM jenis biosolar dan pertalite yang selama beberapa waktu terakhir menjadi perhatian karena tingginya tingkat konsumsi masyarakat.
Berdasarkan hasil tera ulang yang dilakukan oleh UPT Metrologi Legal DKUPP Kabupaten Probolinggo, seluruh dispenser BBM yang diperiksa masih memenuhi standar pelayanan. Tingkat kesalahan pengukuran atau error margin yang ditemukan masih jauh di bawah batas toleransi yang diperbolehkan.
"Hasil monitoring menunjukkan kondisi distribusi BBM masih berjalan normal. Tidak ditemukan antrean panjang yang dapat mengganggu pelayanan kepada masyarakat," ujarnya pula.
Menurutnya, aktivitas pengisian bahan bakar berlangsung lancar dan tidak menunjukkan adanya gejala kepanikan pembelian di dua SPBU yang dipantau.
"Dampak kenaikan harga pertamax memang sempat menyebabkan penurunan pembelian, tetapi hanya sedikit dan saat ini sudah kembali normal sehingga tidak berpengaruh signifikan,” katanya.
Sjaiful menjelaskan kenaikan harga pertamax beberapa waktu lalu memang sempat mempengaruhi perilaku konsumen, namun perubahan tersebut hanya berlangsung sementara dan tidak memberikan dampak besar terhadap pola konsumsi masyarakat.
"Kondisi itu menunjukkan tingkat kebutuhan BBM di Kabupaten Probolinggo masih relatif stabil meskipun terdapat perubahan harga pada beberapa jenis bahan bakar,” ujarnya lagi.
Ia mengatakan keterbatasan pasokan biosolar yang sempat terjadi di beberapa SPBU akibat adanya pengaturan pasokan dari pihak distributor, namun kondisi itu tidak berlangsung lama dan tidak sampai menyebabkan kelangkaan di masyarakat.
“Di SPBU yang kami tinjau hari ini, keterlambatan pasokan biosolar pada bulan Mei hanya terjadi dua kali dan itu pun sekitar satu hingga dua jam. Distribusi kembali normal sehingga tidak menimbulkan masalah berarti bagi masyarakat,” katanya.
Selain mengecek stok dan distribusi, Tim Monitoring Stabilisasi BBM juga melakukan pengawasan terhadap akurasi alat ukur yang digunakan SPBU dan pengawasan itu penting untuk memastikan masyarakat memperoleh volume BBM sesuai dengan jumlah yang dibayarkan.
"Setiap SPBU kini dapat dipantau secara langsung melalui sistem digital milik Pertamina. Melalui dashboard tersebut, pihak terkait dapat mengetahui kondisi stok secara real time sehingga langkah antisipasi dapat segera dilakukan apabila terjadi penurunan persediaan. Teknologi tersebut sangat membantu dalam menjaga stabilitas distribusi BBM,” ujarnya.
Meski kondisi saat ini masih aman, kata dia lagi, Pemkab Probolinggo tidak ingin mengambil risiko terhadap kemungkinan peningkatan kebutuhan BBM bersubsidi pada masa mendatang, sehingga Bupati Probolinggo mengirim surat resmi untuk meminta tambahan kuota biosolar sebesar 30 persen dari alokasi yang saat ini diberikan.
Pewarta: Zumrotun SolichahEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.