Pacitan, Jawa Timur (ANTARA) - Geolog UPN Veteran Yogyakarta, Prof Eko Teguh Paripurno menyebut keberadaan beberapa sumber air panas di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur berasal dari aktivitas patahan (sesar) aktif pada lempeng/kerak bumi yang saling terhubung satu sama lain.
Kesimpulan itu ia sampaikan usai melakukan studi lapang di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa.
"Kalau melihat dari sisi geologi wilayah Pacitan yang tidak ada gunung api aktif, keberadaan sumber air panas di sini lebih mengarah pada faktor patahan pada lapisan kerak bumi. Bukan vulkanis," kata pakar geologi UPN Veteran Yogyakarta itu.
Ia lalu menjelaskan teori kemunculan sumber air panas alami, seperti halnya yang dia teliti di objek Banyu Anget, Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan.
Menurut penjelasan Ptof Eko, ekspresi kemunculan (sumber) air panas (alami) umumnya disebabkan dua hal.
Pertama karena aktivitas magma, dan kedua karena air mengalir pada zona patahan yang mengalami tekanan tertentu sehingga menghasilkan panas .
"Keberadaan sumber air hangat di sini dapat didikaitkan dengan aktivitas sesar yang membentang di wilayah Pacitan," lanjut dia.
Selain objek wisata Banyu Anget yang ada di wilayah Kecamatan Arjosari, fenomena serupa juga terdapat di dua lokasi lain.
Fa sumber air panas alami dimaksud terdapat di Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan dan Desa Tinatar, Kecamatan Punung.
Temuan itu, menurut Prof Eko, semakin memperkuat dugaan bahwa titik-titik dimaksud berada dalam satu sistem geologi yang saling terhubung satu sama lain.
"Keberadaan berapa titik air hangat yang tersebar dalam satu kawasan, kecenderungannya memang berhubungan dengan sistem patahan yang sama. Tinggal dipetakan apakah berada pada satu jalur atau pada cabang-cabang patahan yang saling berkaitan,” katanya.
Eko menyebut sistem patahan yang paling dominan di Pacitan adalah Patahan Grindulu.
Kemunculan sumber-sumber air hangat di sejumlah lokasi menjadi petunjuk bahwa patahan tersebut masih menunjukkan aktivitas geologi, ujar dia.
“Posisi mata air panas itu semakin menegaskan bahwa sesar Grindulu memang aktif. Aktivitasnya kemudian terdistribusi ke patahan-patahan turunannya yang tersebar di beberapa wilayah,” kata Eko.
Kendati sesar yang ada tergolong aktif, namun dia mengimbau masyarakat tidak takut. Apalagi semata-mata melihatnya sebagai ancaman. Warisan alam tersebut justru dapat dipetik manfaatnya, baik untuk pengembangan wisata maupun pemanfaatan energi panas bumi skala kecil.
“Air hangat ini justru sebuah berkah yang menunjukkan adanya potensi panas bumi. Terpenting adalah memahami risiko dan menyesuaikan pembangunan dengan kondisi geologi yang ada,” katanya.
Di sisi lain, warga yang tinggal di kawasan patahan harus harus membiasakan diri hidup berdampingan dengan risiko.
Konsep adaptif menjadi kata kunci agar risiko yang ada dapat dikelola sehingga tidak berubah menjadi ancaman bencana.
“Bangunan perlu dirancang sesuai standar ketahanan gempa, sementara tata ruang harus mempertimbangkan kondisi geologi setempat,” pungkas Prof ET.
Pewarta: Destyan H. SujarwokoUploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.