Sampang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, Jawa Timur, berupaya meningkatkan layanan kesehatan di lingkungan pondok pesantren di wilayah itu dengan membentuk pos kesehatan pesantren (poskestren).

"Selain untuk meningkatkan layanan, pembentukan pos kesehatan pesantren ini juga dalam rangka mencegah terjadinya penularan penyakit," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Kabupaten Sampang Agus Mulyadi, di Sampang, Senin.

Ia menjelaskan, penyakit menular berbasis lingkungan masih menjadi tantangan besar di lingkungan pondok pesantren, termasuk di wilayah Kabupaten Sampang.

Hal ini terjadi karena kepadatan hunian dan kebiasaan santri yang saling berbagi barang pribadi memicu tingginya kasus penyakit kulit seperti kudis, hingga infeksi saluran pernapasan seperti tuberkulosis (TBC).

"Dinkes memandang perlu kasus tersebut segera ditangani dan salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan membentuk pos kesehatan pesantren, sehingga layanan kesehatan di lingkungan pesantren bisa lebih maksimal," katanya.

Agus mengatakan, selama ini penyakit kulit jenis skabies atau kudis, diare, dan TBC sudah menjadi hal yang umum dikeluhkan di kalangan santri.

Pola interaksi dan perilaku hidup bersih yang belum terbentuk secara mandiri menjadi pemicu utamanya.

"Biasanya santri baru itu sering mengeluh gatal-gatal di tangan dan di sela-sela jari. Ini penyakit yang sudah umum di pondok, bahkan ada kelakar kalau belum gatal-gatal belum ke pondok katanya. Tapi kebiasaan ini harus kita ubah," ujar Agus.

Agus menjelaskan, penularan penyakit gatal dan kudis terjadi akibat kebiasaan para santri yang kerap membuang sampah sembarangan, memakai air bersih secara tidak higienis, serta saling bertukar perlengkapan pribadi seperti selimut, pakaian, hingga kasur secara bersamaan.

Selain itu, bangunan asrama santri yang kekurangan pencahayaan matahari serta tidak memiliki sistem ventilasi udara yang representatif mempercepat potensi penularan bakteri.

Melalui program pesantren sehat dan pembentukan pos kesehatan pesantren (poskestren), Dinkes-KB Kabupaten Sampang berupaya memutus rantai penularan.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sampang Abdul Wafi mengatakan, program Pesantren Sehat melalui pembentukan poskestren itu memang sangat dibutuhkan di lembaga pondok pesantren guna mengatasi persoalan penyakit menular yang sering terjadi dan menjadi keluhan santri.

"Dengan adanya program tersebut, kami yakin persoalan kesehatan santri bisa diatasi dengan baik, dan diharapkan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang biasa," katanya.

Sementara itu, Kabupaten Sampang tercatat sebagai salah satu kabupaten di Jawa Timur dengan jumlah pesantren paling banyak, yakni mencapai 427 pondok pesantren.



Pewarta: Abd Aziz
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026