fokus utama saat ini adalah menjaga kuantitas dan ketersediaan air

Surabaya (ANTARA) - Perum Jasa Tirta (PJT) I menggandeng sektor industri untuk menjaga ketersediaan dan kualitas sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino pada 2026.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Brantas III PJT I Ariet Setiawan mengatakan berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan mendatang sehingga diperlukan langkah mitigasi sejak dini.

"Menghadapi potensi kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino, kami ingin memastikan fokus utama saat ini adalah menjaga kuantitas dan ketersediaan air," kata Ariet di Surabaya, Jumat.

Ia menjelaskan, pasokan air dari wilayah hulu Brantas, termasuk dari Bendungan Sutami, masih berada dalam kondisi aman dan sesuai pola operasi sehingga diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun.

Apabila terjadi lonjakan kebutuhan air yang mendesak, kata dia, tata kelola distribusi air akan dikoordinasikan melalui Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA).

PJT I, lanjutnya, juga berkaca pada pengalaman kemarau ekstrem pada 2018 dengan menyiapkan skenario prioritas distribusi air untuk kebutuhan air minum melalui PDAM serta irigasi pertanian guna menjaga ketahanan pangan.

Selain menjaga kuantitas, PJT I turut memantau kualitas air di wilayah hilir Brantas, khususnya Kali Surabaya, melalui pengambilan sampel secara berkala untuk diuji di laboratorium.

Ariet berharap sektor industri memiliki komitmen kuat dalam mematuhi regulasi lingkungan dengan memastikan limbah yang dibuang telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

"Minimal masyarakat bisa lebih bijak dalam menghemat penggunaan air," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pelaksanaan Urusan Perizinan Pemanfaatan dan Rekomendasi Teknis Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas Dimas menegaskan pentingnya kepatuhan industri terhadap izin pemanfaatan air permukaan, terutama saat musim kemarau.

"Perusahaan yang sudah berizin memiliki kewajiban memberikan laporan berkala. Melalui data dari PJT I, kami bisa mengontrol berapa kubik air yang mereka ambil setiap bulan," katanya.

Menurut Dimas, data tersebut akan menjadi bagian dari penyusunan Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) untuk memprediksi ketersediaan air sepanjang tahun dan menentukan langkah pembatasan kuota apabila kekeringan akibat El Nino terjadi.

"Kami juga memastikan kebutuhan air domestik masyarakat dan irigasi pertanian tetap menjadi prioritas utama sehingga kebijakan pembatasan pengambilan air nantinya hanya diberlakukan bagi sektor industri dan kegiatan komersial penunjang lainnya," ujarnya.

Disisi lain, Koordinator Tim Patroli Air Jawa Timur Imam Rochani mengatakan keterlibatan sektor industri dalam Forum Rembuk Lingkungan merupakan pendekatan baru untuk membangun kepedulian bersama terhadap kelestarian sungai.

"Melalui sinergi kuat antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri, Tim Patroli Air Jatim optimistis angka pencemaran di Kali Surabaya dapat ditekan secara maksimal," tuturnya.



Pewarta: Naufal Ammar Imaduddin
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026