Jombang (ANTARA) - Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 di Jombang, Jawa Timur, sebagai ikhtiar dari agar seni dan budaya tetap menjadi benteng bangsa.
“Lesbumi sejak awal kemerdekaan hingga kini membuktikan peran besarnya. Kini saatnya ruh tradisi itu dikuatkan lagi agar Indonesia jadi mercusuar peradaban dunia,” kata Ketua Lesbumi PBNU K.H. Muhammad Jadul Maula, dalam keterangannya di Jombang, Sabtu.
Ia juga menegaskan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 bukan sekadar seremoni, namun merupakan ikhtiar NU untuk memastikan bahwa seni dan budaya tetap jadi benteng jati diri bangsa yang majemuk dan beradab menjelang Indonesia Emas.
“Semoga rekomendasi yang lahir dari Muktamar Kebudayaan Indonesia di Jombang benar-benar membawa NU kembali ke akar khidmah untuk umat. Merawat jagad dan peradaban dunia," katanya.
Ia juga menegaskan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 ini juga menjadi momentum menjadi untuk menggali kembali akar pemikiran kebudayaan Asrul Sani.
Ia mengatakan bahwa Asrul Sani pernah merumuskan perihal pengertian kebudayaan dalam NU.
"Dia mengatakan bahwa kebudayaan itu keseluruhan yang menjadi jalan, sarana untuk mendidik manusia, yang pilarnya itu ada tiga yakni agama, ilmu pengetahuan, dan seni," kata dia.
Ia menegaskan bahwa tiga pilar penting tersebut harus berjalan bersama, sebab dari garis tersebut sudut pandang kebudayaan NU dapat dilihat.
Ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran menambahkan acara ini dihadiri seluruh aktivis Lesbumi NU, mulai cabang, wilayah hingga pusat.
Menurut Riadi, Islam tak terpisah dari kejawaan, erat dan identik dengan kemelayuan, dan erat dengan tradisi-tradisi masyarakat, seperti Sunda, Bugis Makassar, Banjar, dan lainnya.
"Memperbaiki nasib bangsa demi kemajuan, dengan mudah dilakukan, karena kita kaya akan khazanah tradisi budaya di masyarakat," katanya.
Pewarta: Asmaul ChusnaEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.