Sidoarjo, Jawa Timur (ANTARA) - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sidoarjo Abdillah Nasih meminta pemerintah beserta Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) untuk segera menangani titik-titik tanggul kritis di kawasan lumpur Lapindo guna mencegah risiko yang membahayakan masyarakat.

"Kalau memang ada beberapa titik tanggul yang kritis, baik di wilayah Desa Siring yang bersebelahan dengan rel kereta api dan Jalan Raya Porong, maupun di lokasi lainnya, maka harus segera diantisipasi karena kondisi di sekitar kawasan lumpur juga mengalami penurunan tanah yang dapat menambah potensi risiko bagi masyarakat sekitar," kata Nasih di Sidoarjo, Jumat.

Menurutnya, jika di titik-titik kritis tanggul seperti di wilayah Desa Siring tersebut, ketinggian muka lumpur yang bertambah, serta munculnya titik-titik rembesan di kawasan tanggul, maka hal tersebut turut meningkatkan potensi tanggul jebol yang dapat berakibat mengganggu perjalanan kereta api maupun mobilitas masyarakat yang melalui Jalan Raya Porong.

Dirinya khawatir apabila suatu saat tanggul tersebut jebol, maka dampak akibat lumpuhnya transportasi dari dan menuju Sidoarjo via Porong akan semakin besar.

Ia menjelaskan, DPRD Sidoarjo berencana mendorong koordinasi antara pemerintah daerah, instansi terkait, serta Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) guna mempercepat langkah penanganan pada titik-titik yang dinilai rawan tersebut.

"Langkah-langkah penanganan tersebut seperti penambalan, peninggian tanggul, hingga optimalisasi pengaliran lumpur ke Sungai Porong untuk mengurangi tekanan lumpur di area-area tertentu," ujarnya.

Selain penanganan fisik, ia juga mendorong penerapan sistem peringatan dini atau early warning system berbasis digital pada sejumlah titik tanggul yang rawan guna mempercepat deteksi kondisi darurat.

Selain itu, Nasih juga mendorong pihak PPLS untuk lebih terbuka kepada masyarakat, dan juga awak media terkait kondisi dan data-data di lapangan guna menjaga transparansi terhadap perkembangan penanganan bencana yang telah terjadi sejak tahun 2006 tersebut.

Sementara itu, dari pantauan ANTARA di lapangan, muka lumpur di wilayah tanggul di Desa Siring terlihat tinggi dan hampir menyamai tinggi tanggul. Sementara di beberapa titik lain di kawasan lumpur, muncul rembesan-rembesan air yang diduga berasal dari tanggul.



Pewarta: Fahmi Alfian
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026