Surabaya (ANTARA) - Emiten produsen kemasan plastik, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) optimistis kinerja perusahaan bisa tumbuh sampai dengan 30 persen sampai dengan akhir tahun 2026 dengan strategi peningkatan kapasitas produksi dan mendekati pasar utama, khususnya segmen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

Direktur Utama PT Asia Pramulia Tbk Ricky Winoto dalam keterangannya di Surabaya, Kamis masih tingginya potensi pasar di segmen pasar AMDK mendasari keyakinan perseroan terhadap kinerja positif tahun ini.

"Saat ini kontribusi segmen AMDK terhadap penjualan perseroan cukup mendominasi. Pada tahun 2023 kontribusinya sebesar 29,09 persen dan naik menjadi 40,9 persen pada 2024 serta di tahun 2025, kontribusinya naik menjadi 43,7 persen," katanya.

Ia menjelaskan, pada tahun 2024 pihaknya telah membangun pabrik kedua di Pasuruan menyusul adanya peluang sebesar 33 persen perusahaan AMDK yang ada di wilayah tersebut.

"Namun saat ini utilisasi pabrik kami sudah hampir 100 persen, sehingga berencana untuk menambah kapasitas produksi melalui penambahan mesin," paparnya pada public expose usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan perseroan di Surabaya.

Perseroan pun mengalokasikan Belanja Modal (Capex) sebesar Rp48 miliar untuk pengadaan mesin produksi kemasan AMDK, khususnya penambahan kapasitas galon kemasan air minum berukuran 15 dan 19 liter. Pendanaan Capex ini mayoritas berasal dari dana hasil IPO sebesar Rp46 miliar, sementara sisanya menggunakan kas internal perusahaan.

"Berdasarkan catatan keuangan, dari total dana IPO sebesar Rp96,8 miliar, perseroan telah merealisasikan penggunaan sebesar Rp 79,1 miliar hingga Desember 2025," katanya.

Disinggung terkait dengan tantangan geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak dunia dan bahan baku PET (Polyethilene Therepthalate), perseroan telah menyiapkan langkah antisipasi. Meskipun mayoritas bahan baku diproduksi di Asia dan ketersediaan masih aman melalui suplai lokal serta impor dari Vietnam dan China, perseroan tetap mewaspadai risiko kelangkaan plastik.

"Kami melakukan buffer stock untuk memastikan permintaan pelanggan tetap terpenuhi di tengah fluktuasi global. Selain itu, kami menggunakan fasilitas lindung nilai (hedging) dari beberapa bank untuk mengontrol risiko nilai tukar dan harga bahan baku," kata Direktur Keuangan PT Asia Pramulia Tbk Arif dalam kesempatan yang sama.
 



Pewarta: Indra Setiawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026