Surabaya (ANTARA) - Di antara hiruk pikuk pasar tradisional di Kota Surabaya, ada satu benda yang kerap luput dari perhatian. Bentuknya sederhana, kadang hanya berupa timbangan duduk yang sudah bertahun-tahun menemani pedagang. Namun, dari alat itulah lahir satu hal yang jauh lebih besar daripada angka kilogram, yakni kepercayaan.

Ketika seorang pembeli membawa pulang satu kilogram beras, satu kilogram gula, atau setengah kilogram cabai, ia sebenarnya sedang membeli kepastian. Kepastian bahwa nilai uang yang dibayarkan setara dengan barang yang diterima. Sebaliknya, pedagang juga berharap barang yang dijual tidak lebih banyak daripada yang semestinya, sehingga tidak merugikan usahanya.

Karena itu, kegiatan tera timbangan yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya di berbagai pasar tradisional bukan sekadar urusan teknis mengukur berat barang. Di balik proses pengujian dengan anak timbangan standar, terdapat upaya menjaga fondasi ekonomi rakyat yang paling mendasar, yaitu keadilan dalam transaksi.

Dalam beberapa pekan terakhir, pelayanan tera gratis kembali menyasar pasar-pasar tradisional, termasuk Pasar Pahing Rungkut, Surabaya. Petugas memeriksa akurasi timbangan, sekaligus melakukan penyesuaian apabila ditemukan ketidaksesuaian. Bahkan, perbaikan ringan juga diberikan tanpa biaya.

Langkah ini mungkin terlihat sederhana. Namun, jika ditarik lebih jauh, tera sesungguhnya berbicara tentang bagaimana negara hadir menjaga kepercayaan publik dari hal yang paling kecil.


Tertib ukur

Sejarah perdagangan dunia menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi selalu berjalan beriringan dengan kepastian ukuran. Sejak zaman pelabuhan kuno, hingga era perdagangan digital, ukuran yang seragam menjadi syarat utama agar transaksi berlangsung adil.

Indonesia, bahkan telah memiliki payung hukum mengenai metrologi legal sejak lahirnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. Aturan tersebut menegaskan bahwa alat ukur, alat takar, dan alat timbang yang digunakan dalam aktivitas perdagangan harus memenuhi ketentuan tera dan tera ulang.

Ketentuan itu, kemudian diperkuat melalui regulasi pengawasan metrologi legal yang diperbarui pemerintah pada 2025. Tujuannya jelas, yakni menjamin kebenaran hasil pengukuran dan menciptakan tertib ukur dalam aktivitas ekonomi.

Masalahnya, tertib ukur sering dianggap isu pinggiran. Publik lebih mudah memperdebatkan harga cabai yang naik atau beras yang mahal dibandingkan memastikan apakah timbangannya benar.

Padahal, selisih beberapa gram yang terjadi berulang kali setiap hari dapat menimbulkan kerugian besar secara akumulatif. Dalam skala pasar tradisional yang melayani ribuan transaksi harian, penyimpangan kecil berpotensi berubah menjadi persoalan ekonomi yang tidak lagi sepele.

Lebih menarik lagi, hasil tera tidak selalu menemukan timbangan yang merugikan pembeli. Tidak sedikit alat timbang yang justru menunjukkan hasil lebih besar, sehingga pedagang kehilangan sebagian keuntungan tanpa disadari. Fakta ini mengingatkan bahwa tera bukan instrumen untuk mencurigai pedagang, melainkan mekanisme perlindungan bagi kedua belah pihak.

Di sinilah perspektif penting yang sering terlewat. Tera bukan soal mencari kesalahan, melainkan memastikan seluruh pelaku pasar berdiri pada titik yang sama.


Ekonomi kepercayaan

Pasar tradisional, saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu. Persaingan tidak hanya datang dari pasar modern, tetapi juga dari platform perdagangan digital yang menawarkan transparansi harga dan kemudahan transaksi.

Dalam situasi seperti itu, modal terbesar pasar tradisional justru bukan bangunan megah atau teknologi canggih. Modal utamanya adalah kepercayaan.

Kepercayaan membuat pembeli rela kembali ke lapak yang sama. Kepercayaan membuat pelanggan tetap bertahan, meski ada banyak pilihan lain. Kepercayaan pula yang menciptakan hubungan sosial khas pasar rakyat yang sulit ditemukan dalam transaksi daring.

Karena itu, tera timbangan seharusnya dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem kepercayaan ekonomi.

Surabaya tampaknya memahami hal tersebut. Alih-alih menunggu laporan atau pelanggaran, pemerintah mendatangi pasar secara langsung melalui layanan jemput bola. Pendekatan ini lebih efektif dibanding sekadar penegakan hukum yang bersifat reaktif.

Namun, tantangan ke depan tidak berhenti pada pemeriksaan rutin.

Perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai jenis timbangan digital yang semakin kompleks. Risiko kesalahan tidak lagi semata berasal dari kerusakan mekanis, tetapi juga gangguan perangkat elektronik, sensor, hingga pengaturan sistem. Karena itu, kapasitas pengawasan harus terus diperbarui agar mampu mengikuti perkembangan alat ukur yang digunakan pelaku usaha.

Di sisi lain, literasi konsumen juga perlu diperkuat. Banyak pembeli belum memahami arti tanda tera sah yang menempel pada timbangan. Padahal tanda tersebut merupakan jaminan bahwa alat telah diperiksa dan memenuhi standar yang berlaku.

Jika masyarakat semakin sadar pentingnya tera, maka pengawasan tidak hanya bertumpu pada pemerintah. Konsumen dan pedagang akan menjadi bagian dari sistem pengendalian yang saling mengawasi secara sehat.


Menimbang masa depan

Ada pelajaran menarik dari kegiatan tera timbangan di Surabaya. Di tengah berbagai isu besar mengenai investasi, industri, kecerdasan buatan, dan transformasi digital, kualitas ekonomi sebuah kota ternyata tetap ditentukan oleh hal-hal yang sangat mendasar. Kejujuran dalam ukuran adalah salah satunya.

Pasar yang sehat tidak dibangun hanya dengan pembangunan fisik atau perputaran modal. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa setiap transaksi berlangsung secara adil. Timbangan yang akurat menjadi simbol bahwa hak pembeli dihormati dan hak pedagang dilindungi dalam kadar yang sama.

Ke depan, program tera keliling dapat diperluas melalui integrasi teknologi digital, pemetaan pasar berbasis data, hingga publikasi terbuka mengenai lokasi dan jadwal tera. Inovasi semacam itu akan memperkuat transparansi sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.

Di kota dagang seperti Surabaya, yang sejak berabad-abad lalu hidup dari lalu lintas perdagangan, menjaga akurasi timbangan sesungguhnya berarti menjaga reputasi kota itu sendiri.

Sebab kepercayaan tidak lahir dari pidato atau slogan. Ia tumbuh perlahan, gram demi gram, dari setiap transaksi yang berlangsung jujur di atas sebuah timbangan yang benar.



Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026