Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan 1.100 beasiswa bagi santri dari berbagai pondok pesantren pada 2026 untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, memperluas akses pendidikan tinggi, dan mendorong diversifikasi profesi berbasis akademik serta teknologi.

“Ini kita mencoba terus menguatkan kualitas SDM di Jawa Timur, diversifikasi akademik di Jawa Timur dengan memberikan akses para santri dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur,” ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat peluncuran beasiswa Pemprov Jatim bersama Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) setempat di Surabaya, Rabu.

Dia menjelaskan program beasiswa santri telah berjalan sejak 2006 pada masa Gubernur Imam Utomo dan terus dikembangkan pada periode berikutnya.

Pada masa Gubernur Soekarwo, program tersebut mencakup beasiswa jenjang sarjana, sedangkan pada masa kepemimpinannya diperluas hingga jenjang magister, doktoral, dan beasiswa ke Universitas Al-Azhar Mesir.

Tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga membuka program baru berbasis Science, Technology, Engineering, Economics and Mathematics (STEM) bagi santri.

Program tersebut diharapkan dapat memperluas peluang profesi lulusan pesantren di bidang sains dan teknologi.

“Program ini diharapkan bisa menguatkan diversifikasi profesi yang berbasis pesantren. Jadi memang kerja samanya dengan pesantren-pesantren untuk bisa memberikan afirmasi pada diversifikasi profesi,” katanya.

Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah Jawa Timur Abd Halim Soebahar menjelaskan kuota penerima beasiswa tahun ini 1.100 orang dengan berbagai skema pendidikan.

Untuk program STEM, disediakan kuota 40 mahasiswa jenjang sarjana dan 20 mahasiswa jenjang magister, sedangkan program reguler menyediakan kuota 20 mahasiswa sarjana, 15 mahasiswa magister, dan 10 mahasiswa doktoral.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyediakan kuota khusus bagi mahasiswa magister Universitas Al-Azhar Mesir 30 orang.

LPPD Jawa Timur juga terus mengembangkan program Ma'had Aly. Tahun ini terdapat enam Ma'had Aly yang mendapat kuota masing-masing 20 mahasiswa untuk jenjang Ma’had Ula, sedangkan program Ma’had Tsaniyah mendapat kuota 15 mahasiswa.

Ia mengatakan ke depan akan dibuka program doktoral khusus Ma'had Aly yang diklaim menjadi satu-satunya di Indonesia.

Ia menambahkan jumlah perguruan tinggi yang bekerja sama dalam program beasiswa tersebut terus bertambah. Tahun ini terdapat 64 perguruan tinggi di Jawa Timur dan Universitas Al-Azhar yang terlibat dalam program tersebut.

“Sejak 2019 sampai sekarang sudah 150 perguruan tinggi yang bekerja sama, termasuk Al-Azhar,” katanya.

Khusus beasiswa Universitas Al-Azhar, peserta diwajibkan menguasai Kitab Kuning, bahasa Arab, kemampuan keagamaan, serta hafalan Al Quran. Untuk jenjang sarjana, calon mahasiswa minimal hafal lima juz Al Quran, sedangkan untuk jenjang magister minimal hafal 15 juz dan ditargetkan menyelesaikan hafalan 30 juz saat studi selesai.

“Seleksi finalnya dilakukan langsung oleh Al-Azhar,” ujarnya.

Rekrutmen beasiswa Universitas Al-Azhar dibuka hingga akhir Oktober 2026 karena seleksi akhir di kampus tersebut dijadwalkan berlangsung pada November 2026.

Anggaran program beasiswa melalui LPPD Jawa Timur tahun ini tetap Rp35 miliar, sama seperti tiga tahun terakhir. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap program tersebut mampu mencetak sumber daya manusia unggul yang berjejaring global sekaligus tetap memiliki akhlakul karimah.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026