Bullying tidak hanya yang terlihat secara kasat mata. Perundungan di ruang digital juga harus menjadi perhatian bersama. Karena itu perlu dibangun kepekaan sosial, kepedulian, dan sikap saling menghormati di kalangan anak-anak kita.

Surabaya (ANTARA) - Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, mendorong penguatan ekosistem pendidikan yang ramah anak sebagai langkah strategis untuk mencegah kasus perundungan dan kekerasan.

"Kami sangat prihatin dengan adanya kasus kekerasan yang sampai menghilangkan korban jiwa. Peristiwa ini sangat memprihatinkan dan mencoreng dunia pendidikan kita. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi," kata Cahyo di Surabaya, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan menyusul kasus pengeroyokan yang menimpa seorang siswa SMA di Surabaya dan berujung pada hilangnya nyawa korban.

Menurut dia, pencegahan kekerasan di sekolah tidak cukup hanya melalui penegakan hukum terhadap pelaku, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya membangun budaya pendidikan yang menanamkan nilai kepedulian, kesantunan, tenggang rasa, dan penghormatan terhadap sesama.

Ia mengatakan Komisi E DPRD Jatim selama ini terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jawa Timur dalam melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sejumlah sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, pihaknya menekankan bahwa perundungan tidak hanya terjadi secara fisik atau verbal yang terlihat secara langsung, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk kekerasan digital yang semakin marak di kalangan pelajar.

"Bullying tidak hanya yang terlihat secara kasat mata. Perundungan di ruang digital juga harus menjadi perhatian bersama. Karena itu perlu dibangun kepekaan sosial, kepedulian, dan sikap saling menghormati di kalangan anak-anak kita," ujarnya.

Cahyo mengapresiasi langkah aparat kepolisian yang telah menangani kasus tersebut. Namun, menurutnya, penyelesaian hukum hanya menjadi salah satu bagian dari upaya yang lebih besar untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi peserta didik.

Ia menegaskan pembentukan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan juga keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

"Resiliensi keluarga menjadi kunci dalam mencetak generasi penerus yang baik. Selain itu, lingkungan yang bersahabat dan mendukung tumbuh kembang anak juga berperan penting dalam membentuk karakter generasi muda," katanya.

Legislator tersebut menilai sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu diperkuat agar nilai-nilai keagamaan, etika, toleransi, serta semangat gotong royong dapat tertanam sejak dini.

Dengan ekosistem yang sehat dan mendukung, lanjutnya, potensi terjadinya kekerasan maupun perundungan di lingkungan pendidikan dapat ditekan sehingga lahir generasi muda yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila.



Pewarta: Faizal Falakki
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026