Setiap tanggal 21 Juni kita bukan hanya mengenang wafatnya Bung Karno, tetapi juga merefleksikan apakah cita-cita kemerdekaan yang beliau perjuangkan
Surabaya (ANTARA) - Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Supangat menyebut bulan Juni menjadi momentum menagih kembali janji perjuangan Bung Karno untuk mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan, dan kesempatan setara bagi seluruh rakyat Indonesia di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini.
"Setiap tanggal 21 Juni kita bukan hanya mengenang wafatnya Bung Karno, tetapi juga merefleksikan apakah cita-cita kemerdekaan yang beliau perjuangkan sudah benar-benar dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaan itu masih sangat relevan hingga hari ini," kata Supangat di Surabaya, Rabu.
Ia menilai peringatan wafat Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno atau Bung Karno tidak seharusnya berhenti pada seremoni mengenang tokoh bangsa, melainkan menjadi momentum menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang diwariskan kepada generasi penerus.
Menurut dia, Bung Karno sejak awal memandang kemerdekaan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jembatan emas untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan berdaulat sebagaimana tercermin dalam berbagai pidato serta karya pemikirannya.
"Beliau tidak pernah memaknai kemerdekaan hanya sebagai terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan harus mampu menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat," ujarnya.
Supangat mengatakan konsep Marhaen yang diperkenalkan Bung Karno pada era 1930-an masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat modern, terutama pada kelompok pekerja informal, pengemudi transportasi daring, pekerja lepas, hingga pelaku usaha mikro.
Menurut dia, kelompok tersebut memiliki kemampuan untuk bekerja dan berusaha, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan akibat sistem ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil.
"Marhaen hari ini mungkin tidak lagi identik dengan petani kecil seperti pada masa kolonial. Bentuknya berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi substansi persoalannya masih sama, yaitu bagaimana negara memastikan masyarakat memperoleh kesempatan yang adil untuk hidup sejahtera," katanya.
Ia menambahkan Bung Karno juga menawarkan konsep sosio-demokrasi yang menempatkan demokrasi tidak hanya pada proses pemilihan umum, tetapi juga pada pemerataan kesejahteraan, akses pendidikan yang setara, perlindungan tenaga kerja, dan penegakan hukum yang berkeadilan.
"Demokrasi akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada hak memilih. Demokrasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui keadilan sosial yang nyata. Itulah pesan yang diwariskan Bung Karno," tuturnya.
Dalam konteks pembangunan nasional saat ini, Supangat menilai semangat berdikari yang diperjuangkan Bung Karno tetap relevan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan, meningkatkan perlindungan bagi pekerja, serta mendorong kebijakan publik yang berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
"Bung Karno telah meletakkan fondasi berpikir bahwa pembangunan harus berorientasi pada manusia. Selama masih ada kesenjangan sosial dan ekonomi, maka pemikiran beliau tetap menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diperjuangkan melalui kerja nyata," ucapnya.
Menurut dia, peringatan 21 Juni bukan sekadar agenda mengenang sejarah, melainkan kesempatan untuk meneguhkan kembali komitmen seluruh elemen bangsa dalam melanjutkan cita-cita Indonesia yang adil, makmur, dan berkeadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.