Surabaya (ANTARA) - Duka atas gempa bumi besar yang baru-baru ini mengguncang Filipina (yang terasa pula getarannya pada sejumlah titik di Sulawesi Utara dan sekitarnya) menjadi pengingat bahwa masyarakat Asia Tenggara hidup di kawasan yang rentan terhadap bencana alam. Sebagai negara yang sama-sama berada di jalur cincin api dunia, Indonesia juga menghadapi ancaman serupa, mulai dari gempa bumi hingga erupsi gunung api.

Pengalaman lapangan yang saya peroleh dalam pengumpulan data penelitian (dilakukan pada Mei hingga Juni 2026) mengenai komunikasi publik erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian penting dalam sistem mitigasi bencana berbasis masyarakat. Melalui Focus Group Discussion (FGD) dan indepth interview dengan pemerintah daerah, insan pers, relawan, serta masyarakat di kawasan rawan bencana, ditemukan bahwa grup WhatsApp menjadi salah satu instrumen komunikasi yang paling vital dalam situasi krisis.

Seorang perwakilan media massa menjelaskan bahwa grup WhatsApp yang beranggotakan unsur pemerintah, relawan, tokoh masyarakat, dan warga berfungsi sebagai ruang pemantauan kondisi lapangan secara real time. Teknologi menjadi jembatan informasi antara pos pantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di gunung Semeru dengan akar rumput.

Temuan tersebut diperkuat oleh keterangan warga Dusun Sumberlangsep (Desa Jugosari, Candipuro, Lumajang) yang menyatakan bahwa saat erupsi Semeru dan ancaman lahar terjadi, sebagian besar informasi mengenai kondisi lapangan, jalur evakuasi, hingga kebutuhan pengungsi disampaikan melalui grup-grup WhatsApp warga. 

Faktanya, pada momentum yang setidaknya menelan delapan rumah (dan isinya) di Sumberlangsep bagian utara dan delapan rumah di Sumberlangsep bagian selatan pada November 2025 lalu, tidak sampai memamah korban jiwa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi sederhana sekalipun mampu berperan sebagai infrastruktur komunikasi kebencanaan. Dalam hitungan detik, informasi dapat bergerak dari lokasi terdampak menuju pemerintah daerah, media massa, maupun relawan. Situasi tersebut menciptakan apa yang dalam studi komunikasi disebut sebagai distributed communication network, yaitu jaringan komunikasi yang tidak lagi bergantung pada satu pusat informasi, melainkan tersebar melalui berbagai aktor.

Pentingnya teknologi dalam mitigasi bencana semakin terlihat ketika Asia Tenggara kembali diguncang gempa bumi besar beberapa hari terakhir. Gempa berkekuatan sekitar 7,7–7,8 magnitudo yang berpusat di wilayah Filipina selatan pada 8 Juni 2026 menyebabkan puluhan korban jiwa, ratusan korban luka, dan memicu peringatan tsunami di sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana saat ini tidak mengenal batas administrasi negara. Oleh karena itu, sistem mitigasi juga harus mampu bekerja secara lintas wilayah dan lintas negara. Dalam konteks inilah teknologi menjadi faktor yang sangat menentukan.

Negara-negara maju telah lebih dahulu mengembangkan sistem mitigasi berbasis teknologi yang jauh lebih kompleks. Jepang (salah satu negara maju yang juga rawan gempa), misalnya, mengoperasikan Earthquake Early Warning System yang mampu mendeteksi gelombang primer (P-Wave) beberapa detik sebelum gelombang destruktif mencapai permukaan. Menariknya, teknologi arsitektur mereka juga telah tertata.

Amerika Serikat mengembangkan sistem serupa melalui ShakeAlert yang memanfaatkan jaringan sensor seismik berkecepatan tinggi. Sementara itu, negara-negara Eropa mengembangkan sistem berbasis crowdsourcing seperti LastQuake yang memungkinkan masyarakat menerima informasi gempa sekaligus mengirimkan laporan kondisi lapangan secara langsung.

Pelajaran dari Semeru memberikan perspektif yang menarik. Teknologi yang paling efektif belum tentu teknologi yang paling canggih. WhatsApp terbukti menjadi alat mitigasi yang sangat berguna karena telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Warga tidak memerlukan pelatihan khusus untuk menggunakannya, sementara proses pertukaran informasi dapat berlangsung dengan cepat dan murah.

Masa depan mitigasi bencana Indonesia sebaiknya tidak hanya berfokus pada pembangunan teknologi berbiaya tinggi, tetapi juga pada integrasi antara teknologi modern dan praktik komunikasi yang sudah hidup di masyarakat: kearifan lokal.

Pengalaman Semeru memperlihatkan bahwa ketahanan masyarakat terhadap bencana tidak hanya dibangun oleh infrastruktur fisik, tetapi juga oleh infrastruktur komunikasi. Ketika informasi dapat bergerak cepat, akurat, dan dipercaya, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi ancaman. Meski demikian, tantangannya adalah soal kabar hoax yang juga gampang menjalar. Oleh karena itu, literasi digital juga menjadi penting dan menjadi tanggung jawab bersama. 

 

*) Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya



Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026