Pasuruan, Jawa Timur (ANTARA) -

Masyarakat Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan mengibarkan berbagai bendera negara peserta Piala Dunia 2026 di sepanjang jalan desa dalam menyemarakkan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Sekretaris Desa Gerongan, Kashani, mengatakan tradisi Kampung Gila Bola (Gibol) di wilayahnya, telah berkembang menjadi identitas yang melekat karena mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk melihat langsung kemeriahan suasana Piala Dunia di lingkungan tersebut.

"Setiap perhelatan Piala Dunia suasananya memang berbeda, banyak warga dari luar desa yang datang hanya untuk melihat deretan bendera dan kemeriahan yang muncul," kata Kashani di Pasuruan, Selasa.

Ia menyatakan bahwa bendera-bendera tersebut akan tetap berkibar selama turnamen berlangsung dan secara bertahap diturunkan ketika negara yang didukung warga telah tersingkir dari persaingan.

Selain memasang bendera, lanjutnya, warga Desa Gerongan juga memiliki kebiasaan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan yang melibatkan berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa, sehingga momentum ini tidak hanya menjadi ajang hiburan tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.

Adapun Brasil, Argentina, Portugal, Jerman, Prancis, dan Inggris menjadi negara-negara dengan jumlah bendera terbanyak dengan basis pendukung terbesar di Desa Gerongan.

Tradisi pemasangan bendera itu telah berlangsung sejak beberapa edisi Piala Dunia sebelumnya dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bentuk ekspresi kebersamaan sekaligus dukungan terhadap tim-tim yang dijagokan.

"Saat memasuki masa Piala Dunia, warga langsung kompak, ada warga yang membeli bendera sendiri, ada warga yang membantu memasang bendera, semua tumbuh menjadi kebiasaan setiap gelaran empat tahun sekali," kata salah seorang warga Desa Gerongan, Samian.

Menariknya, seluruh atribut yang terpasang di berbagai penjuru desa tersebut berasal dari dana swadaya masyarakat tanpa keterlibatan panitia khusus, dengan harga satu bendera berukuran besar berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.



Pewarta: Fahmi Alfian
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026