Surabaya (ANTARA) - Kehidupan modern membawa kita pada kenyamanan yang luar biasa karena berbagai fasilitas yang serba canggih disuguhkan oleh produk-produk teknologi. Semua kesulitan yang bersumber dari jarak dan waktu mampu diatasi dengan sangat mudah oleh produk teknologi, khususnya di bidang informasi tersebut.

Pada saat bersamaan, semua fasilitas itu juga menghadirkan beban berlebih karena manusia diseret pada kehidupan yang kompetitif dan harus serba cepat. Kita bukan hanya bersaing untuk target pencapaian dengan sesama, melainkan juga dengan keadaan.

Keadaan memaksa manusia modern masuk ke dalam situasi yang secara fisik terlihat nyaman, namun secara batin justru sebaliknya. Manusia menjadi sering, bahkan resah, khawatir dan takut menghadapi kenyataan dalam konteks masa lalu dan masa depan.

Di luar karena pengaruh perkembangan teknologi, tidak sedikit orang yang mengalami luka batin akibat pola asuh maupun akibat dari interaksi sosial, banyak kasus orang mengalami gangguan pada jiwanya, seperti kecemasan, bahkan tidak jarang depresi.

Komunitas Banyumili Surabaya menyauti gejala kejiwaan di masyarakat itu dengan menggelar kegiatan “Meruwat dan Merawat Jiwa” pada Sabtu (6/6).

"Siapa pun orangnya, tentu tidak pernah lepas dari berbagai peristiwa yang dialami selama hidupnya yang kadang menorehkan luka pada jiwanya, bahkan yang mungkin peristiwa itu tak pernah dialaminya sendiri, tetapi memori peristiwa itu mengendap dalam batinnya karena terwarisi dari orang tuanya," kata penggagas komunitas tersebut R Bagus Herwindro.

Bagi dia, satu kompilasi memori yang turun temurun diwariskan pada keluarga itu bisa diistilahkan sebagai “karma”. Saat kompilasi memori itu tak teruraikan dengan baik, maka biasanya akan berpotensi menjadi berbagai halangan atau hambatan dalam kehidupan, yang bisa diistilahkan sebagai sengkolo

Karena itu, pada kegiatan kali ini, komunitas tersebut memberi atensi khusus untuk meruwat sengkolo yang bersumber dari karma dalam keluarga, yaitu dalam kaitan interaksi dengan orang tua, saudara kandung, pasangan hidup, dan anak, sekaligus merawat jiwa agar kembali utuh, terhubung dengan diri yang sejati.

Dengan terhubung pada diri sejati, maka kedepannya kehidupan yang dijalani dapat lebih bahagia, dengan seizin-Nya. 

Dengan pengalaman yang didapat dari kegiatan ini, diharapkan peserta mampu melakukannya sendiri ruwat jiwa dengan konsep yang telah dipahami dan dengan metode yang telah dijalaninya secara langsung.

 



Pewarta: Masuki M. Astro
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026