Kediri (ANTARA) - Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ikut mendorong koperasi untuk mempunyai unit usaha produksi yang mengolah berbagai hasil pertanian termasuk tebu. 

Ketua DPC HKTI Kabupaten Kediri Sumadianto, Minggu mengatakan berbagai produk bisa dihasilkan dari tanaman tebu seperti gula merah atau produk lanjutannya menjadi kecap.

"Ini menjadi peluang baru bagi petani. Karena kalau tidak ada usaha gula merah maka nanti semua hasil panen tebu akan masuk ke pabrik gula, padahal bisa diolah jadi produk lainnya," katanya dalam keterangannya di Kediri.

Ia menambahkan, produksi gula merah dari Kabupaten Kediri sangat diminati dan sebagian terserap juga ke bahan baku pembuatan kecap.

Pria yang juga pengurus Asosiasi Gula Merah Kabupaten Kediri ini juga menambahkan UMKM yang bergerak di bidang pembuatan gula merah di Kabupaten Kediri juga cukup besar.

Dari data yang ada, ada sekitar 350 perajin gula merah yang mayoritas masih industri rumahan dan masa puncak produksinya masih tergantung dengan masa panen tebu.

Ia menjelaskan, saat ini petani juga makin pintar memilih varietas tebu yang berkualitas dengan masa panen yang lebih singkat sehingga, petani bisa panen lebih cepat.

Terkait dengan penjualan, ia mengatakan penjualan hasil gula merah itu masih dilakukan di pasar-pasar. Namun, dengan adanya dukungan yang diberikan oleh pemerintah, produk gula merah dan turunannya bisa dijual di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

"Dukungan pemerintah untuk menggerakkan ekonomi di bawah itu sangat luar biasa. Sehingga nanti diharapkan ekonomi di bawah itu bisa bergerak, tidak ada lagi urbanisasi, jadi dari desa ke kota," kata dia.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri Mohamad Solikin mengatakan pemerintah kabupaten sangat mendukung pengembangan koperasi menuju ke usaha pengolahan hasil pertanian termasuk tebu, apalagi mampu dikemas dengan baik sehingga semakin menarik.

Pemerintah kabupaten selama ini juga intensif memberikan pendampingan pada koperasi sehingga mereka juga bisa lebih berdaya.

Sebelumnya, Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono saat di Kediri juga menekankan tentang pentingnya koperasi untuk masuk dalam ekosistem industri gula serta mengoptimalkan kemitraan antara petani serta koperasi

Menkop menjelaskan, kemitraan antara petani, koperasi, dan industri sangat penting karena sektor gula merupakan salah satu komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

“Pemerintah telah menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2028, untuk mencapainya, diperlukan penguatan sektor hulu hingga hilir secara terintegrasi,” kata dia.

Menkop menilai, tantangan utama petani tebu saat ini bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperoleh kepastian pasar, kepastian penyerapan hasil panen, dan kepastian usaha yang menguntungkan.



Pewarta: Asmaul Chusna
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026