Sumenep (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di tiga kecamatan kepulauan, guna memperluas akses energi bersih dan ramah lingkungan di wilayah tertinggal terdepan terluar.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo di Sumenep, Senin mengatakan ketiga kecamatan kepulauan itu masing-masing Kecamatan Kangayan, Sapeken dan Kecamatan Tlango.

"Dari tiga kecamatan ini, yang terbaru dan pekerjaannya dilakukan tahun ini adalah di Kecamatan Tlango, yakni di Gili Labak," katanya.

Bupati menuturkan, program PLTS di kepulauan Sumenep mulai dilakukan pada 2015 dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumenep dengan lokasi pembangunan di Pulau Kangen, Kecamatan Kangayan dan Pulau Saor Saebus, Kecamatan Sapeken.

Kala itu, sambung bupati, Pemkab Sumenep mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,6 miliar.

"Tapi anggaran yang terbatas kala itu, belum bisa menjangkau semua rumah tangga di dua kecamatan tersebut," katanya.

Pemkab Sumenep, sambung dia, selanjutnya menyampaikan pengajuan kepada pemerintah pusat, agar program tersebut bisa dibantu, sehingga akses jaringan listrik PLTS bisa lebih luas.

Selain karena memang sudah menjadi kebutuhan masyarakat kepulauan, biaya operasional PLTS juga jauh lebih murah dibanding Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTG) yang banyak digunakan masyarakat kepulauan.

Hasilnya, sambung dia, pemerintah pusat bersedia membantu di pulau berbeda yang belum tersambung aliran, yakni di Gili Labak, Kecamatan Talango.

"Selain di Gili Labak, sebagian lokasi juga di Pulau Kangean yang sebelumnya sudah kami mulai, sehingga aliran listrik PLTS di sana lebih luas dan merata," katanya.

Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo lebih lanjut menjelaskan, program bantuan pusat di Gili Labak, Kecamatan Talango dan Pulau Kangean, Kecamatan Kangayan itu, diperkirakan bisa menjangkau hingga 2 ribu rumah tangga.

"Jadi, PLTS ini sebenarnya merupakan solusi utama elektrifikasi untuk wilayah kepulauan yang ada di Sumenep," kata Fauzi.



Pewarta: Abd Aziz
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026