Media sosial memang penting, tapi saya juga turun langsung ke komunitas

Surabaya (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Marcellus Bryan Soegiarto membangun jenama streetwear lokal UNPST Worldwide berbasis komunitas sebagai wadah self-expression anak muda setelah mengalami bullying karena gaya berpakaian yang dianggap berbeda.

“Awalnya karena saya sendiri pernah mengalami bullying gara-gara cara berpakaian yang dianggap berbeda. Setelah saya networking ke banyak komunitas, ternyata banyak juga anak muda yang punya keresahan yang sama,” ujar Bryan ditemui dalam Outlining Design 2026: CH2OMA yang digelar Program Studi Visual Communication Design (VCD) UC di Ciputra World Surabaya, Jumat.

Bryan mengatakan dari pengalaman tersebut ia melihat peluang menjadikan fashion bukan sekadar bisnis, tetapi juga gerakan sosial kecil yang membawa pesan penerimaan diri.

Melalui konsep “clean grunge”, ia menghadirkan gaya rebel dan edgy yang tetap nyaman dipakai sehari-hari serta lebih mudah diterima masyarakat luas. Ia juga ingin mengubah stigma bahwa gaya grunge, metal, maupun street culture identik dengan hal negatif.

Berbekal passion di dunia fashion, Bryan mulai membangun UNPST Worldwide sejak dua tahun lalu tanpa koneksi maupun bantuan pihak luar. Dalam prosesnya, ia mengaku harus melalui banyak trial and error untuk membangun awareness brand tersebut.

Selain memanfaatkan media sosial, Bryan juga aktif turun langsung ke berbagai komunitas seperti hip hop, hardcore, hingga skateboard untuk memperkenalkan produknya.

“Media sosial memang penting, tapi saya juga turun langsung ke komunitas. Dari situ orang mulai mengenal brand ini dan akhirnya banyak yang memakai produk kami,” katanya.

Kini, produk UNPST Worldwide mulai dikenal di berbagai komunitas street culture. Bryan juga aktif membangun komunitas loyal yang tumbuh bersama brand tersebut.

Dalam pameran terbarunya, Bryan membawa sekitar 10 produk eksklusif yang belum pernah dirilis di media sosial sebagai bentuk apresiasi kepada komunitas yang mendukung perjalanan brand-nya sejak awal.

“Saya ingin give back ke orang-orang yang sudah support dari nol. Mereka yang selalu mengikuti perjalanan brand ini,” ujarnya.

Ketua Program Studi Visual Communication Design Universitas Ciputra, Stevanus Christian Anggrianto mengatakan tugas akhir mahasiswa di VCD UC tidak hanya berfokus pada estetika desain, tetapi juga diarahkan menjadi karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan siap diuji di ruang publik.

“Di VCD UC, tugas akhir tidak hanya menghasilkan karya visual yang menarik, tetapi juga dikembangkan sebagai solusi desain nyata yang terintegrasi dengan bisnis, branding, strategi komunikasi visual, dan pengalaman audiens,” ujarnya.

Menurut Stevanus, CH2OMA menghadirkan berbagai karya mahasiswa yang dekat dengan isu sehari-hari, mulai dari sustainability, kesehatan, literasi digital, hingga budaya anak muda.

“Ragam karya ini menunjukkan bahwa pendidikan desain mampu menghasilkan gagasan yang aplikatif, relevan dengan kebutuhan pasar, sekaligus responsif terhadap isu sosial dan budaya yang berkembang,” katanya.

Ia menilai UNPST Worldwide menjadi contoh bagaimana desain dapat dipakai untuk membangun gerakan komunitas sekaligus mengubah persepsi publik terhadap budaya alternatif.

“Yang menarik bukan hanya desain produknya, tapi bagaimana Bryan membangun komunitas dan mengubah persepsi publik terhadap gaya alternatif menjadi sesuatu yang positif,” ujarnya.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026