Surabaya (ANTARA) - Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Eri Irawan menginisiasi terbentuknya "Sekolah sampah" sebagai upaya mewujudkan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Eri Irawan saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa mengatakan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan berat bagi kota-kota di Indonesia, termasuk Surabaya.
"Di Surabaya, setiap hari ada sekitar 1.800 ton timbulan sampah, di mana hampir 60 persen di antaranya adalah sampah organik termasuk limbah dapur dan sisa makanan yang berpotensi menghasilkan gas metana yang memperparah krisis iklim bila tak diolah secara optimal di tempat pembuangan akhir," katanya.
Ia mengatakan, tanpa fokus menggalang gerakan pemilahan dan pengolahan sampah berbasis sumber, permasalahan sampah tidak akan tuntas sampai kapan pun. Orientasi pengelolaan yang selama ini cenderung condong ke hilir berbasis TPA, harus ditransformasikan ke sektor hulu alias sumber sampahnya, seperti rumah tangga, komunitas RT/RW, sekolah, dan sebagainya.
"Persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Kebiasaan memilah sampah rumah tangga menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mengurangi beban TPA, menyelamatkan Bumi kita, sekaligus meningkatkan nilai guna sampah," ujarnya.
Karena itu, Eri Irawan menginisiasi program edukatif bertajuk "Sekolah Sampah" yang dihadirkan sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan dimulai dari sumbernya.
"Edisi perdana "Sekolah Sampah" akan digelar pada 23 Mei 2026, dan akan terus dilanjutkan ke edisi-edisi berikutnya setiap bulan," katanya.
Eri Irawan memaparkan, dalam kegiatan tersebut, peserta akan mendapatkan materi mengenai edukasi perubahan perilaku dalam mengelola sampah, termasuk pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Langkah sederhana tersebut dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi masa depan Bumi. Setiap peserta juga akan mendapatkan gratis komposter/biopori untuk digunakan mengolah sampah organik di rumah/lingkungannya masing-masing.
"'Sekolah Sampah' tidak hanya menghadirkan materi teoritis, tetapi juga pembelajaran teknis yang mudah diterapkan masyarakat. Peserta akan dikenalkan pada metode pengolahan sampah organik secara sederhana dan murah menggunakan komposter, biopori, serta maggot skala rumah tangga. Metode ini diharapkan dapat membantu rumah tangga mengurangi volume sampah organik sekaligus menghasilkan manfaat bagi lingkungan," katanya.
Pewarta: Indra SetiawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.