Surabaya (ANTARA) - Istilah homeless media mendadak kembali ramai diperbincangkan setelah disebut oleh Muhammad Qodari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI. Istilah homeless media pertama kali diperkenalkan oleh Eddward Samadyo Kennedy pada tahun 2017 merujuk pada media berbasis platform digital yang tumbuh tanpa rumah  redaksi konvensional. Mereka hadir di TikTok, Instagram, YouTube, atau X, memproduksi arus informasi cepat, viral, dan dekat dengan publik digital.

Fenomena ini nyatanya bukan sesuatu yang lahir begitu saja. Ia merupakan konsekuensi dari perubahan besar dalam ekosistem komunikasi digital. Publik hari ini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada media arus utama untuk memperoleh informasi. Algoritma media sosial telah menjadi ruang redaksi baru yang menentukan apa yang muncul, viral, dan dipercaya. Situasi ini sebenarnya sudah diprediksi jauh hari oleh Alvin Toffler melalui konsep prosumer dalam bukunya The Third Wave. Toffler menggambarkan lahirnya generasi baru yang tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi (consumer), tetapi sekaligus produsen informasi (producer).

Perubahan Produksi Informasi

Hari ini prediksi itu benar-benar terjadi, publik tidak lagi hanya membaca berita, publik ikut merekam, mengomentari, mengedit, memproduksi, bahkan mendistribusikan informasi mereka sendiri, semua orang bisa menjadi media. Cukup memiliki ponsel, akun media sosial, dan koneksi internet, seseorang sudah bisa menyebarkan informasi kepada ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Sebagai mantan jurnalis, saya melihat perubahan paling besar hari ini bukan pada teknologi media, melainkan pada cara informasi diproduksi. Dulu berita lahir dari proses verifikasi di ruang redaksi. Hari ini banyak informasi lahir dari pertarungan algoritma dan perhatian publik.

Mereka homeless media belajar langsung dari internet, membaca algoritma, memahami SEO,  mengelola retention, dan harus diakui banyak dari mereka melakukannya dengan sangat baik. Riset yang dilakukan Geger Riyanto pada 2024 (Remotivi dan Internews) tentang homeless media menunjukkan bahwa mayoritas pelaku homeless media tidak pernah benar-benar dibentuk oleh tradisi jurnalistik profesional. Mereka tumbuh dalam kultur media sosial yang lebih menekankan performa distribusi dibanding disiplin verifikasi. Karena itu cara berpikir mereka berbeda dengan newsroom konvensional, mereka tidak dibentuk oleh rapat editorial, mereka dibentuk oleh dashboard analytics. Mereka tidak terlalu akrab dengan istilah cover both sides. Tetapi sangat akrab dengan insight, traffic, retention, dan engagement. Mereka tahu bagaimana membuat audiens bertahan menonton video sampai akhir. Mereka tahu bagaimana membuat judul yang memancing klik, hingga bagaimana menaklukkan algoritma. Kemampuan seperti itu sering kali lebih menentukan jangkauan informasi dibanding pengalaman panjang di ruang redaksi. Itulah sebabnya homeless media tumbuh cepat.

Jurnalisme dan disiplin verifikasi

Pada titik ini, pemikiran Marshall McLuhan terasa sangat relevan, yaitu the medium is the message. Media bukan sekadar alat menyampaikan pesan, tetapi ikut membentuk cara manusia memahami realitas. Hari ini realitas publik dibentuk oleh timeline, yang viral terasa paling penting. Dalam perspektif Manuel Castells, masyarakat modern hidup dalam network society, ketika kekuasaan komunikasi berpindah ke jaringan digital yang cair dan tersebar. Artinya, siapa pun yang mampu mengendalikan perhatian publik, ia memiliki pengaruh komunikasi. Dan homeless media hari ini menjadi bagian dari kekuatan baru itu.

Dalam teori Pierre Bourdieu, media adalah arena perebutan legitimasi dan pengaruh. Semua berebut perhatian, media, pemerintah, influencer, kreator konten, hingga akun-akun informasi lokal. Akibatnya. Kecepatan lebih penting dibanding akurasi. Situasi ini pernah diperingatkan Guy Debord dalam Society of the Spectacle. Realitas akhirnya berubah menjadi tontonan yang terus diproduksi agar tetap hidup di ruang publik digital. Tetapi dunia jurnalistik sebenarnya sudah lama menyadari perubahan ini. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism mengingatkan bahwa teknologi boleh berubah, tetapi prinsip dasar jurnalisme tidak boleh hilang,  verifikasi, independensi, dan tanggung jawab publik. Sementara A.J. Liebling pernah mengatakan kalimat terkenal: “Freedom of the press is guaranteed only to those who own one.” Tetapi di era media sosial hari ini, kalimat itu mengalami pergeseran besar. Semua orang sekarang bisa memiliki media. Persoalannya bukan lagi siapa yang punya media, tetapi siapa yang mampu menjaga kepercayaan publik.

Bahkan Clay Shirky sejak lama mengingatkan bahwa revolusi digital bukan sedang menyelamatkan model lama media, melainkan menciptakan ekosistem komunikasi baru yang lebih cair, lebih personal, dan sering kali tanpa pagar institusi formal. Karena itu, hari ini kita tidak bisa lagi melihat homeless media hanya dengan kacamata lama. Mereka adalah produk zaman. Produk dari perubahan teknologi. Produk dari perpindahan perhatian publik. Harus diakui, sebagian dari mereka menghasilkan karya yang sangat baik, visualnya kuat, cepat dalam distribusi, dekat dengan audiens hingga Responsif terhadap isu lokal. Bahkan beberapa lebih efektif menjangkau generasi muda dibanding media konvensional yang terlalu birokratis dan formal.

Tetapi justru karena pengaruh mereka semakin besar, tantangan etiknya juga semakin besar. Sebab pada akhirnya, masa depan media bukan ditentukan siapa yang paling viral. Bukan juga siapa yang paling cepat. Tetapi siapa yang paling dipercaya. Karena di era tsunami informasi seperti sekarang, publik sebenarnya tidak kekurangan berita. Justru yang semakin langka yaitu rasa percaya. Dari titik itulah semua kanal informasi media konvensional, homeless media, kreator digital, bahkan pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama,  menjaga etika, disiplin verifikasi, dan kepercayaan publik.

 

*) Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya



Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026