Surabaya (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto memperkuat pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus dalam diskusi panel di Universitas Negeri Surabaya, Sabtu.
“Selain sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, kampus merupakan laboratorium peradaban yang mempersiapkan pemimpin masa depan dengan empati, integritas, dan penghormatan terhadap sesama,” ujar Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi.
Arifah mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun generasi muda Indonesia yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
"Kampus bukan sekadar ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk karakter pemimpin masa depan," ujarnya.
Ia menjelaskan peradaban bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, maupun prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan melindungi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak.
Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024, satu dari empat perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya.
Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, mencatat satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan, baik fisik, emosional, maupun seksual.
Menurut Arifah, kondisi tersebut menuntut komitmen nyata seluruh civitas akademika untuk membangun budaya kampus yang menghormati harkat dan martabat manusia, menjunjung nilai kemanusiaan, kesetaraan, serta menolak segala bentuk kekerasan.
Sementara itu, Mendiktisaintek, Brian Yuliarto mengatakan kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi harus terus menjadi perhatian seluruh civitas akademika.
“Kampus adalah pusat pengetahuan, peradaban, dan kemajuan bangsa. Karena itu, kondisi di dalam kampus, termasuk persoalan kekerasan, harus mendapat perhatian serius agar kampus tetap menjadi ruang aman sekaligus mitra strategis negara dan pemerintah,” ujarnya.
Brian menambahkan pimpinan perguruan tinggi perlu terus mengingatkan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan melalui berbagai panduan serta informasi di titik strategis kampus agar setiap warga kampus merasa terlindungi dan memiliki akses mudah untuk melapor apabila terjadi kekerasan.
Dalam kunjungan tersebut, Brian juga meninjau pengelolaan sampah yang dikembangkan Direktorat Smart Eco Campus Unesa.
Ia mengapresiasi langkah Unesa dalam menyelesaikan persoalan sampah secara mandiri melalui pemilahan, pengolahan, hingga daur ulang.
Diskusi panel ditutup dengan pembacaan deklarasi “Unesa Go Zero Waste” oleh Rektor Unesa Prof Nurhasan sebagai komitmen kampus memperkuat pengelolaan lingkungan berkelanjutan melalui pengurangan dan penanganan sampah mandiri di lingkungan kampus.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.