Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan sumber daya manusia (SDM) maritim unggul dan pengembangan ekonomi biru menjadi kunci mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.

Saat menghadiri Dies Natalis Ke-39 Universitas Hang Tuah di Surabaya, Kamis, Khofifah menjelaskan arah pembangunan Jawa Timur dalam jangka menengah dan panjang dirumuskan melalui konsep “Gerbang Baru Nusantara” yang menempatkan provinsi itu tidak hanya sebagai wilayah transit, tetapi juga pusat orkestrasi rantai nilai nasional terintegrasi dan berdaya saing global.

Ia mengatakan terdapat empat pengungkit utama yang terus diperkuat, yakni penguatan rantai pasok industri melalui hilirisasi, stabilitas pasokan komoditas strategis, peningkatan mobilitas manusia dan tenaga kerja, serta penguatan konektivitas ekonomi antarwilayah.

“Keeempat pengungkit tersebut saling terhubung dan bertumpu pada satu faktor kunci, yaitu ketersediaan SDM unggul yang adaptif dan berdaya saing global," kata Khofifah.

Menurut dia, Jawa Timur sebagai pusat industri pengolahan terbesar kedua di Indonesia memiliki kekuatan pada sektor agro-maritim, industri perkapalan hingga pariwisata bahari.

“Maka peningkatan kualitas SDM menjadi prioritas untuk mendorong transformasi ekonomi dari berbasis sumber daya alam (resource-based economy) menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy),” katanya.

Dalam konteks pembangunan kemaritiman, Khofifah menekankan pentingnya pergeseran paradigma menuju ekonomi biru (blue economy) melalui pemanfaatan sumber daya kelautan secara produktif, inovatif dan berkelanjutan.

“Kita harus beralih pada paradigma ekonomi biru, yaitu pemanfaatan sumber daya kelautan yang tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Ia menyebut nilai Indonesia Blue Economy Index (IBEI) Jawa Timur mencapai 60,54 pada 2024 dan terus diarahkan meningkat menuju target jangka panjang 2045.

Secara rinci, industri berbasis kelautan dan pariwisata bahari menjadi motor penggerak utama ekonomi biru di Jawa Timur sehingga percepatan peningkatan IBEI memerlukan kebijakan terintegrasi, dukungan inovasi teknologi serta sinergi lintas sektor berkelanjutan.

Khofifah juga mengapresiasi kontribusi Universitas Hang Tuah dalam mencetak SDM unggul di bidang kemaritiman, terutama untuk pengoperasian teknologi maritim modern.

Menurut dia, penyiapan SDM maritim unggul tidak hanya menuntut kecerdasan intelektual atau intelligence quotient (IQ), tetapi juga stabilitas psikologis yang kuat.

"Perguruan tinggi yang bisa menempa menyeimbangkan IQ dan stabilitas psikologis terutama pengoperasian teknologi maritim ada di Universitas Hang Tuah," katanya.

Khofifah menyoroti besarnya peluang sektor kemaritiman dalam membuka lapangan kerja baru, termasuk bidang pengelasan bawah air (underwater welding) yang memiliki permintaan tinggi secara global.

"Banyak negara membutuhkan tenaga pengelasan bawah air (underwater welding) oleh karena itu diharapkan Universitas Hang Tuah bisa mentraining untuk melaksanakan Underwater Welding," katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Hang Tuah Laksamana Muda (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari menyatakan, pihaknya siap bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang kelautan dan kemaritiman.

"Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan tinggi di Jawa Timur, UHT siap bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemprov Jatim dalam mencetak SDM Unggul, memperkuat riset dan inovasi serta mendukung pembangunan daerah yang inklusif," ujarnya.

 



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026