Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur meminta Dinas Kesehatan (Dinkes), Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana setempat untuk lebih serius meningkatkan cakupan imunisasi akibat kejadian luar biasa (KLB) campak di daerah itu.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Jember tercatat sebanyak 25 kasus positif campak dari 107 sampel suspek campak yang tersebar di 50 puskesmas di Kabupaten Jember.
"Kami tidak menyangka kasus campak meluas hingga ke Jember sampai saat ini. Kami ingin datanya valid dan masih banyak warga yang kurang sadar dengan imunisasi," kata Ketua Komisi D DPRD Jember Sunarsi Khoris di DPRD setempat, Kamis.
Menurutnya, kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi perlu digencarkan agar cakupan imunisasi semakin meningkat karena kendala yang terjadi di lapangan masih banyak warga yang enggan datang ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi.
"Kesadaran masyarakat perlu ditumbuhkan dan cakupan imunisasi belum maksimal, namun saya agak ragu dengan data yang disajikan Dinkes Jember terkait dengan jumlah kasus positif campak karena saat ditanya secara detail tidak bisa menjawab," tuturnya.
Ia mengatakan, Komisi D akan memanggil Dinkes dan 50 puskesmas untuk memastikan data valid sebaran kasus campak yang terjadi di Kabupaten Jember.
Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Jember Rita Wahyuningsih mengatakan sebanyak 107 sampel suspek campak yang tersebar di 50 puskesmas dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya dan hasilnya 25 sampel dinyatakan positif.
"Sebagian sampel tersebut sudah dikirimkan pada Februari 2026, namun karena BBLKM kehabisan reagen, maka hasil pemeriksaan sejumlah sampel baru bisa dilaksanakan dan hasilnya keluar," katanya.
Kasus positif campak terbanyak ditemukan di Puskesmas Ledokombo dan Puskesmas Panti, namun untuk 25 kasus positif itu peningkatan yang lebih dari dua kasus terdapat di Puskesmas Mayang dan Puskesmas Sumberjambe.
Menurutnya, petugas sudah melakukan tata laksana penanganan ketika ada terduga atau suspek campak dan dilakukan penguatan imunisasi, sehingga balita yang terpapar campak dapat sembuh.
"Sebenarnya kasus campak bisa sembuh sendiri, terkecuali terdapat peningkatan komplikasi atau terinfeksi kasus lain, sehingga dapat berisiko menyebabkan kematian," ujarnya.
Pewarta: Zumrotun SolichahEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.