Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) -

Raung sirine mobil pemadam kebakaran menembus padatnya lalu lintas Kota Surabaya, Jawa Timur, mengiringi personel yang tengah berlomba dengan waktu untuk misi penyelamatan dan penanganan kondisi darurat.

Pengendara bermotor pun ikut sigap membuka celah dan memberikan jalan. Mereka paham betul bahwa di balik raung sirine mobil pemadam kebakaran, ada peristiwa darurat yang membutuhkan penanganan dengan segera.

Keseharian personel pemadam kebakaran bisa dibilang bukan hal yang normal. Di tengah kesibukan harian yang relatif tenang, tiba-tiba alarm berbunyi. Sedetik kemudian, personel damkar sudah melaju untuk menjalankan misi penyelamatan, sebagai representasi hadirnya negara untuk rakyatnya.

Hari yang sebelumnya dijalani dengan mengecek peralatan pemadam guna memastikan kesiapsiagaan, tiba-tiba berubah menjadi pertaruhan nyawa. Ujung tombak penyelamatan di Kota Surabaya itu, hanya memiliki satu target, menyelamatkan nyawa warga.

Aksi heroik pemadam kebakaran, memang sudah menjadi rahasia umum. Namun, ada kisah yang selalu dikenang di balik seragam tahan panas personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya.

Salah satu personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya yang telah mengabdi selama 15 tahun, Supriyanto, berbagi kisah dan pengalaman saat menangani berbagai kondisi darurat berisiko tinggi di wilayah itu.

"Kalau ada kejadian kebakaran, orang lain lari keluar, tapi kami tetap maju. Kami bisa menyelamatkan banyak orang dan benda-benda," kata Supriyanto.

Bagi dia dan kawan-kawan, pekerjaan pemadam kebakaran bukan sekadar memadamkan api, melainkan berhadapan langsung dengan situasi yang bisa berubah dalam hitungan detik. Tidak salah jika setiap langkah mereka saat bertugas bisa dikatakan sebagai pertaruhan nyawa.

Menurut Supriyanto, kedekatan dengan masyarakat menjadi alasan ia bertahan untuk menjadi garda terdepan penyelamatan di Kota Surabaya. Dalam setiap panggilan, ada nyawa yang harus diselamatkan dan waktu selalu dirasa tidak pernah cukup.

Meski rutinitas harian dijalani dengan disiplin melalui Peraturan Urusan Dinas Dalam (PUDD), mulai dari pengecekan peralatan, hingga latihan fisik, namun di lapangan, situasi sering kali jauh dari yang dipersiapkan.

"Kadang satu hari tidak ada kejadian, tapi bisa juga sampai lima kali penanganan," ujarnya kepada ANTARA.

Ketegangan selalu terasa dalam setiap operasi. Supriyanto mengingat momen, saat timnya menangani kebakaran kapal di wilayah Bangkalan, Madura, pada 2023. Sumber api berasal dari tangki bahan bakar solar dengan kapasitas 500 liter di bagian bawah kapal.

Untuk menjinakkan api, Supriyanto dan tim harus bertaruh nyawa, dengan turun sekitar 10 meter ke dalam dek melalui tangga vertikal sempit, satu per satu, di tengah kepulan asap dan bau bahan bakar yang menyengat.

"Seumpama di situ ada ledakan, kami sudah tidak bisa menyelamatkan diri. Aksesnya sangat minim, turun satu per satu," ujarnya.

Di ruang tertutup itu, panas terasa menekan, oksigen terbatas, dan setiap percikan api bisa berujung fatal. Suara logam berderit dan sesekali letupan kecil membuat situasi semakin mencekam. Tim bertahan selama tiga, hingga empat jam, hingga api berhasil dikendalikan.

Ia selalu mengingat bahwa di setiap lokasi kejadian membawa ketidakpastian, seperti saat menghadapi kebakaran di gudang yang berpotensi menyimpan bahan berbahaya dan mengancam keselamatan, bukan hanya masyarakat, namun personel damkar itu sendiri.

Kisah lain yang masih terekam dalam ingatan Supriyanto adalah peristiwa ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 29 September 2025. Proses evakuasi, dinilai sangat berat.

Banyak korban yang menjerit minta tolong segera, tapi personel damkar harus mendahulukan mana yang bisa diakses lebih dulu karena reruntuhan bangunan yang begitu menyeramkan.

Proses evakuasi tidak bisa dilakukan sekaligus karena struktur bangunan yang rawan runtuh. Setiap langkah harus diperhitungkan, dan petugas hanya bisa memindahkan material secara bertahap.

Penanganan di pondok pesantren itu berjalan tujuh hari sampai tim Basarnas menyatakan selesai karena sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan.

Kisah lainnya datang dari Komandan Peleton 3 Tim Rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya yang telah mengabdi sekitar delapan tahun, Dwi Bintoro, yang menyebut pekerjaan itu sebagai panggilan jiwa yang menuntut kesiapan mental.

"Kapan lagi kita bekerja di bidang sosial, kita bantu orang susah, lalu didoakan sehat selalu. Itu sudah hal yang luar biasa untuk kami," kata Dwi Bintoro yang kerap disapa Debe itu.

Debe mengingat pengalaman saat mengevakuasi kecelakaan mobil terbalik yang membuat korban terjepit di dalam kabin. Tubuh korban terhimpit rangka kendaraan, sementara suara tangis dan teriakan menjadi pengiring personel damkar yang melakukan evakuasi.

Ketika itu, tim hendak menolong, tapi korban marah-marah karena kesakitan. Akhirnya satu personel fokus menenangkan, yang lain tetap bekerja menyelamatkan.

Setiap gerakan alat harus terukur. Sedikit saja kesalahan bisa memperparah kondisi korban. Waktu terasa berjalan lambat, hingga akhirnya bagian tubuh yang terjepit berhasil dilepaskan. Begitu kakinya yang terjepit berhasil dilepas, akhirnya korban terselamatkan.

 

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Surabaya melakukan pengecekan rutin terhadap robot pemadam kebakaran di Markas Damkar Surabaya, Jawa Timur. ANTARA/Widya Chandrawati

 

Selain kebakaran dan kecelakaan, personel damkar juga menangani evakuasi warga sakit di ruang sempit, hingga penanganan hewan liar. Namun, tantangan terbesar justru terjadi di perjalanan menuju lokasi.

Personel itu dituntut cepat karena menyangkut nyawa, tapi tetap harus menjaga keselamatan diri dan pengguna jalan lain di areal yang sempit.

Dari semua keberanian itu, mereka mengakui bahwa rasa takut tetap ada, terutama ketika berhadapan dengan ruang sempit, api yang tidak terkendali, atau kemungkinan ledakan yang datang tanpa tanda. Namun, rasa takut tersebut tidak pernah membuat mereka mundur.

Di balik setiap penugasan yang membawa mereka semakin dekat dengan bahaya, personel Damkar Surabaya tetap berpegang pada satu tujuan utama, yakni menyelamatkan warga dalam kondisi darurat dan personel kembali pulang dengan selamat setelah tugas selesai.

 

*) Widya Chandrawati adalah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Magang Magenta di Perum LKBN ANTARA Biro Jawa Timur



Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026