Lamongan (ANTARA) - Kementerian Pertanian menyiapkan ratusan unit pompa air di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, untuk menghadapi potensi dampak El Nino dan menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Andi Nur Alamsyah di Lamongan, Rabu, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi dini agar petani tetap dapat menanam di tengah ancaman kekeringan.

"El Nino itu ada, tapi kami optimistis petani Lamongan tetap menanam dan berproduksi karena mitigasi dilakukan lebih awal. Air, pupuk, dan alsintan kami pastikan tersedia," ujarnya saat meninjau pompanisasi di Waduk Delikguno, Kecamatan Tikung.

Ia menjelaskan, Kementerian Pertanian menyiapkan sekitar 100 unit pompa berkapasitas 4 inci, 100 unit pompa 6 inci, dan 70 unit pompa 3 inci. Selain itu, juga disiapkan 200 unit irigasi perpompaan, 70 unit irigasi perpipaan, serta 50 unit bangunan konservasi air.

"Dari total sekitar 95 ribu hektare luas baku sawah di Lamongan, sekitar 53 ribu hektare di antaranya masih berupa lahan tadah hujan sehingga membutuhkan dukungan pengairan tambahan," jelasnya. 

Andi menambahkan, sumber air seperti Bengawan Solo dan waduk-waduk di Lamongan juga akan dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan irigasi, termasuk menambah luas layanan dari sekitar 257 hektare menjadi sekitar 457 hektare.

Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan upaya tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat swasembada pangan dan meningkatkan indeks pertanaman.

"Target kami luas tambah tanam tercapai dan indeks pertanaman meningkat dari 2,1 menjadi 2,5 melalui optimalisasi sumber daya air yang ada," katanya.

Sebagai informasi, program pompanisasi dari Kementan tersebut menyasar sejumlah kelompok tani di wilayah setempat, antara lain Poktan Mardi Tani di Desa Pengumbulanadi, Kecamatan Tikung, Gapoktan Truni Makmur di Desa Truni, Kecamatan Babat, serta Poktan Rukun Makmur II di Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng.



Pewarta: Alimun Khakim
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026