Sekarang anak-anak kami tidak perlu khawatir lagi dalam berlatih karena kesehatan mereka terjamin oleh BPJS TK dan dukungan penuh dari RS Ubaya
Surabaya (ANTARA) - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Surabaya menggandeng Rumah Sakit Universitas Surabaya (RS Ubaya) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) untuk menjamin perlindungan kesehatan atlet secara menyeluruh.
"Sekarang anak-anak kami tidak perlu khawatir lagi dalam berlatih karena kesehatan mereka terjamin oleh BPJS TK dan dukungan penuh dari RS Ubaya," kata Ketua Umum KONI Surabaya Arderio Hukom di Surabaya, Minggu.
Arderio menyebutkan hampir seluruh atlet Pusat Latihan Cabang (Puslatcab) telah terdaftar dalam program jaminan kesehatan hasil kerja sama tersebut.
Ia menegaskan perlindungan perlu dilakukan sejak awal sebagai langkah antisipasi.
"Perlindungan diri ini jangan sampai setelah kejadian baru melindungi. Jadi, lebih baik kita antisipasi dengan bersinergi bersama Rumah Sakit Ubaya dan BPJS TK," ujarnya.
Baca juga: Piala Wali Kota jadi ajang seleksi atlet Muaythai menuju Porprov 2027
Direktur RS Ubaya Wenny Retno Sarie Lestari memastikan kesiapan fasilitas medis lengkap, termasuk layanan terintegrasi dari pencegahan hingga rehabilitasi cedera bagi atlet.
"Pelayanan kami melalui tim sport klinik memastikan atlet bisa kembali bertanding sesuai kapasitasnya. Penanganan dilakukan secara cepat dan profesional," ucapnya.
Dalam kolaborasi tersebut, RS Ubaya berperan sebagai pelaksana layanan kesehatan teknis, sedangkan BPJS TK menjadi penjamin biaya perawatan. Sinergi ini dinilai memudahkan mitigasi risiko cedera di lapangan.
"Atlet tidak perlu khawatir karena risiko sudah diatasi dengan penjaminan dari BPJS TK dan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Ubaya," katanya.
Baca juga: KONI Surabaya pererat silaturahmi pengurus lewat "fun football"
Account Representative BPJS TK Surabaya Andi Asmar mengatakan kerja sama tersebut juga bertujuan menekan beban ekonomi atlet akibat risiko cedera saat latihan maupun pertandingan.
"Kami tidak mau mereka harus keluar biaya sendiri saat cedera. Jika harus operasi, biayanya bisa ratusan juta dan tidak semua atlet mampu membayar itu," katanya.
Ia menambahkan pentingnya edukasi agar atlet memahami program perlindungan kecelakaan olahraga sehingga siap menghadapi risiko tanpa dampak ekonomi.
"Perlu kita ikuti programnya supaya ketika terjadi risiko mereka sudah siap. Sehingga, tidak ada risiko ekonomi yang muncul akibat dari kecelakaan atau cedera itu," ujarnya.
Baca juga: Pencak Silat Piala KONI Surabaya jadi ajang seleksi atlet
Pewarta: Willi IrawanEditor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.