Surabaya (ANTARA) -
Kampung Kue di kawasan Rungkut Lor, Surabaya, Jawa Timur menjadi wadah pemberdayaan perempuan berbasis komunitas sejak 2005, yang melibatkan puluhan pelaku usaha rumahan dalam memproduksi berbagai jenis kue tradisional setiap hari.
“Saya lihat ibu-ibu pagi hari sudah tidak ada kegiatan yang produktif yang bisa dilakukan, karena dampak dari krisis ekonomi tahun 1998, mereka di-PHK tapi tidak dipanggil kembali,” kata pendiri Kampung Kue, Choirul Mahpuduah, kepada ANTARA di Surabaya, Sabtu.
Kampung Kue itu tepatnya berada di Jalan Rungkut Lor Gang II, Kelurahan Kali Rungkut, dan dikenal sebagai sentra jajanan pasar yang beroperasi sejak dini hari.
Aktivitas produksi dimulai sekitar pukul 03.00 WIB hingga 09.00 WIB, dengan waktu terbaik berkunjung sebelum pukul 06.00 WIB saat pilihan kue masih lengkap.
Setiap rumah di kampung tersebut berfungsi sebagai dapur produksi dengan spesialisasi berbeda, seperti lemper, risoles, pastel, kue lapis, hingga brownies dan camilan modern. Produk kemudian didistribusikan ke sekitar 11 titik penjualan untuk melayani pelanggan tetap maupun pengunjung umum.
Sebelum merintis Kampung Kue, Choirul yang kerap disapa Irul itu merupakan aktivis buruh yang aktif memperjuangkan hak pekerja perempuan, mulai dari upah lembur hingga cuti haid.
Aktivitas tersebut membuat perempuan pencetus Kampung Kue itu harus berhadapan dengan aparat hingga berujung pemutusan hubungan kerja. Pengalaman itu membentuk pandangannya tentang pentingnya kemandirian ekonomi, khususnya bagi perempuan.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, ia mulai mengajak ibu-ibu di lingkungannya untuk memiliki kegiatan produktif melalui usaha kue rumahan. Langkah awal dilakukan dengan cara sederhana, yakni mengumpulkan resep dari kliping koran dan membagikannya kepada warga sebagai bahan belajar bersama.
Selain itu, ia membentuk unit simpan pinjam bermodal Rp150.000 untuk membantu permodalan warga, yang kemudian berkembang menjadi koperasi pekerja rumahan. Upaya tersebut diperkuat dengan menggandeng berbagai pihak untuk pelatihan, akses bahan baku, hingga dukungan pemasaran dan digitalisasi.
“Saya tidak bisa jalan sendiri, jadi harus menggandeng banyak pihak supaya ibu-ibu bisa berkembang,” ujarnya.
Saat ini terdapat 68 pelaku usaha yang memproduksi lebih dari 70 jenis kue dengan harga terjangkau. Produk tidak hanya dijual langsung kepada masyarakat, tetapi juga melayani pesanan rutin dan distribusi lebih luas.
Perkembangan tersebut berdampak langsung pada peningkatan ekonomi warga. Omzet Kampung Kue saat ini berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta, dan menjadikan usaha kue sebagai sumber penghasilan utama bagi sebagian besar pelaku.
“Dulu hanya untuk tambahan uang sekolah anak, sekarang sudah jadi penghasilan utama. Dengan punya usaha sendiri, kita lebih dihargai, kita lebih punya harga diri, kita lebih bermartabat,” ujarnya.
Pemerintah Kota Surabaya menetapkan kawasan tersebut sebagai Kampung Wisata Kue dan Kampung Wisata Edukasi pada 2022. Kampung Kue Rungkut tidak hanya dikenal sebagai pusat kuliner tradisional, tetapi juga sebagai model pemberdayaan masyarakat di Surabaya.
*) Widya Chandrawati adalah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Magang Magenta di Perum LKBN ANTARA Biro Jawa Timur
Pewarta: Widya Chandrawati *)Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.