Surabaya (ANTARA) - Di sebuah sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, sekelompok remaja duduk di depan warung kopi sederhana. Tawa mereka pecah sesekali, bercampur suara kendaraan yang melintas tanpa henti.

Di permukaan, itu hanyalah potret keseharian anak muda kota besar. Namun di baliknya, tersimpan lapisan persoalan yang jauh lebih kompleks, yakni pencarian jati diri, tekanan sosial, hingga benturan nilai antara kebebasan dan batas.

Surabaya sebagai kota metropolitan kedua terbesar di Indonesia tidak hanya tumbuh dalam infrastruktur, tetapi juga dalam dinamika sosial generasi mudanya. Kenakalan remaja menjadi salah satu isu yang terus berulang, dari tawuran, penyalahgunaan alkohol, hingga keterlibatan dalam geng motor.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan penanganannya mulai berubah, yakni lebih sistematis, lebih humanis, dan lebih terintegrasi.

Data Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana menunjukkan tren penurunan signifikan. Dari lebih 450 kasus yang ditangani pada tahun sebelumnya, angka itu turun drastis menjadi di bawah 100 kasus pada tahun ini. Sebuah perubahan yang tidak terjadi secara kebetulan.


Pembinaan

Perubahan paling mencolok dalam strategi penanganan kenakalan remaja di Surabaya adalah pergeseran paradigma yakni dari sekadar penertiban menjadi pembinaan berkelanjutan.

Jika sebelumnya anak-anak yang terjaring pelanggaran hanya menjalani konseling singkat sebelum dipulangkan, kini pendekatannya jauh lebih dalam. Mereka yang terlibat dalam perilaku berisiko seperti konsumsi minuman keras, tawuran, atau geng motor, ditempatkan di rumah aman untuk menjalani pembinaan intensif selama 7 hingga 14 hari.

Di ruang pembinaan itu, pendekatan tidak lagi bersifat hukuman semata. Ada edukasi tentang dampak kriminalitas, bahaya narkoba, penguatan karakter, hingga wawasan kebangsaan. Bahkan, anak-anak tetap difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan melalui skema pembelajaran daring.

Model ini memperlihatkan satu hal penting bahwa kenakalan remaja tidak dipandang sebagai penyimpangan yang harus dihukum semata, tetapi sebagai gejala sosial yang perlu dipahami akar masalahnya.

Namun pendekatan ini juga menuntut keseriusan lebih besar. Tanpa kesinambungan setelah pembinaan, risiko remaja kembali ke lingkungan lama tetap tinggi. Di sinilah tantangan kebijakan mulai terlihat: bagaimana memastikan perubahan tidak berhenti di ruang pembinaan.


Pencegahan

Selain pembinaan, Surabaya membangun sistem pencegahan yang menjangkau akar sosial paling dasar, yakni sekolah dan keluarga.

Program Dinamika Arek Suroboyo Hebat (DASH) menjadi salah satu instrumen utama. Digelar di lebih dari 1.200 sekolah, program ini menyasar edukasi tentang bullying, kenakalan remaja, dan dampak media sosial. Ribuan pelajar diberi pemahaman langsung tentang konsekuensi perilaku mereka, bukan hanya dari perspektif aturan, tetapi juga psikologis dan sosial.

Di sisi lain, Satpol PP Goes to School dan program Duta Trantibum menghadirkan peran pelajar sebagai agen ketertiban di lingkungan sekolah. Pendekatan ini menarik karena tidak lagi menempatkan remaja semata sebagai objek pengawasan, tetapi juga subjek perubahan.

Namun yang paling krusial adalah intervensi pada ruang keluarga. Program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) menunjukkan kesadaran bahwa akar kenakalan remaja tidak bisa dilepaskan dari kualitas relasi di rumah.

Data yang muncul dari berbagai program pembinaan menunjukkan pola yang konsisten, yakni sebagian besar kasus remaja bermasalah berkaitan dengan lemahnya pengawasan orang tua, keterbatasan komunikasi, hingga minimnya kehadiran emosional dalam keluarga.

Pendekatan ini memperkuat satu gagasan penting bahwa kota tidak bisa memperbaiki remaja tanpa memperbaiki ekosistem tumbuh mereka.


Tantangan

Penurunan angka kasus tentu menjadi indikator keberhasilan awal. Namun efektivitas jangka panjang tidak hanya diukur dari statistik, melainkan dari perubahan perilaku yang bertahan.

Ada beberapa tantangan yang masih membayangi. Pertama, konsistensi lingkungan sosial. Remaja yang sudah menjalani pembinaan akan kembali ke lingkungan yang sama, yakni teman sebaya, tekanan sosial, dan akses digital yang tidak terbatas. Tanpa penguatan komunitas di tingkat kampung dan sekolah, risiko pengulangan tetap ada.

Kedua, kesenjangan pengawasan keluarga. Tidak semua orang tua memiliki waktu, kapasitas, atau pemahaman yang cukup untuk mendampingi anak. Program edukasi orang tua perlu diperluas, bukan hanya dalam bentuk seminar, tetapi pendampingan yang lebih personal dan berkelanjutan.

Ketiga, tantangan era digital. Banyak perilaku menyimpang remaja kini dipicu atau diperkuat oleh media sosial, mulai dari budaya viral kekerasan hingga tekanan eksistensi digital. Kebijakan yang ada masih cenderung berfokus pada ruang fisik, sementara ruang digital berkembang lebih cepat dari respons kebijakan.

Keempat, keberlanjutan program lintas sektor. Keterlibatan sekolah, aparat, lembaga sosial, dan komunitas sudah berjalan, namun koordinasi jangka panjang masih menjadi pekerjaan rumah. Tanpa integrasi yang kuat, program bisa berjalan paralel tetapi tidak saling menguatkan.


Menjaga arah

Pendekatan Surabaya menunjukkan bahwa penanganan kenakalan remaja tidak bisa berdiri pada satu sisi saja. Ia membutuhkan kombinasi antara disiplin, edukasi, dan pemulihan sosial.

Namun lebih dari itu, ada satu hal yang menjadi inti, yakni kehadiran. Kehadiran negara, sekolah, dan keluarga dalam kehidupan remaja bukan sekadar formalitas, tetapi keterlibatan nyata yang membentuk arah tumbuh mereka.

Di tengah kota yang terus bergerak cepat, remaja sering kali menjadi pihak yang paling rentan tertinggal secara emosional. Mereka mudah terlihat, tetapi tidak selalu benar-benar didengar.

Jika kebijakan hanya berhenti pada penanganan kasus, maka persoalan akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda. Tetapi jika pendekatan menyentuh akar sosialnya, keluarga yang kuat, sekolah yang responsif, dan ruang komunitas yang sehat, maka perubahan bisa menjadi lebih permanen.

Surabaya telah menunjukkan arah itu. Namun perjalanan masih panjang. Pertanyaan yang tersisa bukan lagi sekadar apakah angka kenakalan remaja bisa terus turun, melainkan apakah kota mampu menjaga agar setiap remaja tetap memiliki ruang untuk tumbuh tanpa harus tersesat lebih dulu.



Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026