Kualitas produk herbal tidak ditentukan di pabrik. Ia ditentukan jauh sebelumnya yaitu di ladang, di waktu panen, dan di cara pengolahan pasca panen yang dilakukan petani.
Surabaya (ANTARA) - Menjaga konsistensi mutu produk herbal bukan perkara mudah. Berbeda dengan obat kimia sintetik yang molekulnya identik dari satu batch ke batch berikutnya, tanaman obat adalah organisme hidup yang kandungan senyawa berkhasiatnya berubah tergantung lokasi budidaya, waktu panen, hingga cara pengeringan. Ini bukan kelemahan industri namun ini adalah tantangan ilmiah yang harus diselesaikan dari hulunya, yaitu dari kualitas bahan baku.
Tanaman Obat Bukan Bahan Kimia Sintetik
Produk herbal tidak bisa diperlakukan seperti obat kimia sintetik yang molekulnya identik dari satu batch ke batch berikutnya. Tanaman obat adalah organisme hidup. Kandungan metabolit aktifnya yaitu senyawa-senyawa yang bertanggung jawab langsung atas khasiat pengobatan akan berubah tergantung varietas, lokasi budidaya, ketinggian tempat tumbuh, kondisi tanah, hingga cuaca saat panen.
Penelitian terhadap kunyit dan temulawak dari sepuluh wilayah berbeda di Indonesia menunjukkan fluktuasi kandungan metabolit aktif yang dapat mencapai 50 persen antar lokasi. Artinya, kunyit dari Lampung dan kunyit dari Kalimantan bisa menghasilkan khasiat yang berbeda secara signifikan, meskipun secara fisik tampak serupa. Bagi industri yang harus menjamin konsistensi mutu di setiap batch produksi, variabilitas sebesar ini adalah tantangan nyata yang belum terpecahkan.
Pascapanen: Titik Kritis yang Paling Sering Diabaikan
Masalah tidak berhenti di kebun. Penanganan pascapanen yang tidak tepat adalah faktor kedua yang tak kalah krusial dan ironisnya, ini adalah tahap yang paling dekat dengan petani namun paling jarang mendapat perhatian serius.
Cara panen, waktu panen, metode pengeringan, hingga cara penyimpanan secara langsung menentukan berapa banyak senyawa berkhasiat yang masih tersisa ketika bahan baku sampai ke tangan industri. Mengeringkan simplisia di bawah terik matahari langsung, menyimpan dalam karung lembap, atau memanen di waktu yang tidak tepat dapat menurunkan kandungan senyawa aktif secara drastis bahkan sebelum bahan baku meninggalkan ladang.
Petani yang tidak mendapat pendampingan teknis yang memadai tidak mengetahui bahwa keputusan-keputusan sederhana di tingkat usaha tani mereka memiliki dampak langsung pada kualitas produk akhir yang akan dikonsumsi masyarakat. Inilah mengapa pendampingan teknis berbasis Good Agricultural and Collection Practices (GACP) bukan sekadar rekomendasi melainkan kebutuhan mendesak.
Tanpa Standar, Industri Memilih Impor
Dua masalah ini yaitu variabilitas bahan baku dan penanganan pascapanen yang belum terstandar, secara langsung mendorong industri herbal nasional untuk memilih bahan baku impor daripada mengandalkan pasokan lokal. Bahan baku impor, meskipun lebih mahal, hadir dengan spesifikasi yang sudah terverifikasi dan konsisten.
Bagi industri yang harus memenuhi persyaratan regulasi dan menjamin keseragaman produk, kepastian ini bernilai lebih tinggi daripada harga yang lebih murah namun penuh ketidakpastian.
Akibatnya, kekayaan tanaman obat Indonesia yang luar biasa, lebih dari 30.000 spesies dan lebih dari 10.000 ramuan tradisional yang terdokumentasi, belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh industri dalam negeri. Potensinya ada, tetapi jembatan antara ladang petani dan lini produksi industri belum terbangun dengan baik.
Solusi: Standardisasi dari Hulu
Jawabannya ada pada penerapan sistem jaminan mutu bahan baku herbal dari hulu secara konsisten. Ini mencakup tiga hal: penerapan GACP di tingkat petani, penggunaan metode sidik jari kimia (chemical fingerprinting) berbasis HPTLC sebagai alat kendali mutu yang terstandar, serta pengembangan monografi bahan baku dalam Farmakope Herbal Indonesia sebagai acuan nasional yang mengikat seluruh rantai pasok, dari petani hingga pabrik.
Dengan sistem seperti ini, variabilitas bahan baku bukan lagi hambatan yang tak terduga. Ia menjadi variabel yang dipahami, diukur, dan dikendalikan sejak awal. Petani yang menerapkan GACP menghasilkan bahan baku yang dapat diprediksi mutunya. Industri yang menerima bahan baku berstandar dapat merancang proses produksi yang konsisten. Dan pada akhirnya, konsumen mendapatkan produk herbal yang khasiatnya dapat diandalkan.
Kualitas produk herbal tidak ditentukan di pabrik. Ia ditentukan jauh sebelumnya yaitu di ladang, di waktu panen, dan di cara pengolahan pasca panen yang dilakukan petani. Membangun industri herbal Indonesia yang berdaya saing berarti memulai dari sana.
-------------
*) Prof. Dr. apt. Idha Kusumawati, M.Si., adalah Guru Besar Fitofarmasetikal, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dan juga Alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.
Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.