Lamongan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lamongan menjaga luas tambah tanam (LTT) dan keandalan jaringan irigasi sebagai langkah utama menghadapi potensi kekeringan pada 2026 guna mempertahankan produksi pangan daerah.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipatif melalui penguatan infrastruktur air dan percepatan pola tanam di wilayah pertanian.
“Pemerintah Kabupaten Lamongan berkomitmen mengantisipasi dampak musim kemarau melalui optimalisasi jaringan irigasi, penyediaan sarana pendukung pengairan seperti pompa air dan waduk, normalisasi sungai, serta penguatan koordinasi lintas sektor,” katanya di Lamongan, Jawa Timur, Selasa.
Ia menjelaskan, langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas produksi pertanian di Lamongan yang merupakan salah satu lumbung pangan nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lanjutnya, produksi padi Lamongan pada 2025 mencapai sekitar 1,08 juta ton gabah kering panen (GKP) dengan luas panen 153,38 ribu hektare, atau meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Selain itu, realisasi luas tambah tanam (LTT) pada 2025 tercatat mencapai 192 ribu hektare atau melampaui target yang ditetapkan pemerintah pusat.
Menurut Yuhronur, capaian tersebut menjadi modal penting bagi daerah untuk mempertahankan produktivitas di tengah potensi kemarau panjang, terutama karena sebagian lahan pertanian di Lamongan masih bergantung pada sistem tadah hujan.
Ia menambahkan bahwa kesiapsiagaan sejak dini menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pangan daerah.
“Dengan penguatan irigasi dan sinergi lintas sektor, kami optimistis target produksi pertanian pada tahun 2026 tetap terjaga dan Lamongan terus berkontribusi sebagai lumbung pangan nasional,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah setempat telah mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Antisipasi dan Mitigasi Kemarau 2026 di Kantor Kementerian Pertanian RI, Jakarta Selatan, Senin (20/4).
Pada kesempatan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, disampaikan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dengan risiko kekeringan meningkat.
Data BMKG menunjukkan peluang fenomena El Nino pada semester II 2026 mencapai 70–90 persen, yang berpotensi menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut berpotensi memicu defisit air dan menurunkan luas tambah tanam, khususnya pada daerah berbasis tadah hujan.
Pemerintah pusat menyiapkan dukungan distribusi pompa air untuk pengairan hingga satu juta hektare lahan sebagai bagian dari strategi nasional menghadapi musim kemarau.
Pewarta: Alimun KhakimEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026