Surabaya (ANTARA) - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya mengubah pola penanganan kenakalan remaja dengan pendekatan pembinaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Kepala DP3APPKB Kota Surabaya Ida Widayati di Kota Surabaya, Senin, mengatakan upaya ini mulai menunjukkan hasil nyata.
"Tren kenakalan remaja di Surabaya mengalami perbaikan cukup drastis," katanya.
Ia menjelaskan, kebijakan pembatasan aktivitas malam hari menjadi salah satu faktor penting dalam menekan potensi kenakalan remaja.
Namun, kata dia, perubahan pendekatan dalam penanganan juga menjadi kunci utama keberhasilan tersebut. Jika sebelumnya anak-anak yang terjaring hanya menjalani konseling singkat di markas Satpol PP sebelum dipulangkan, kini pemkot menerapkan model pembinaan yang lebih intensif.
Menurut Ida, anak-anak yang terlibat dalam kasus tertentu seperti konsumsi minuman keras, tawuran, hingga keterlibatan geng motor, tidak lagi langsung dipulangkan karena terlebih dahulu ditempatkan di Rumah Aman untuk mendapatkan pembinaan.
“Kami ubah polanya. Tidak hanya konseling singkat, tetapi ada edukasi yang lebih mendalam. Anak-anak kami berikan pemahaman tentang dampak kriminalitas, bahaya narkoba bagi kesehatan, hingga penguatan wawasan kebangsaan,” katanya.
Program pembinaan tersebut berlangsung selama 7 - 14 hari. Selama periode itu, anak-anak tidak hanya mendapatkan pendampingan psikologis, tetapi juga tetap difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan. Pemkot Surabaya memberikan izin bagi sekolah untuk menerapkan pembelajaran daring bagi anak-anak yang masih berstatus pelajar.
"Program ini sendiri telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu dan secara bertahap menunjukkan dampak positif. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di Rumah Aman kini semakin berkurang, seiring meningkatnya kesadaran dan efek jera dari pendekatan yang diterapkan," ujarnya.
Di sisi lain, Pemkot Surabaya juga mendorong peran keluarga dan lingkungan melalui edukasi orang tua agar pengawasan anak lebih optimal. Dengan kombinasi kebijakan preventif seperti jam malam dan pembinaan yang komprehensif, tren penurunan kenakalan remaja diyakini dapat terus terjaga, sekaligus menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang generasi muda.
“Kami berharap anak-anak muda bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang positif. Karena perilaku negatif tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga sangat mempengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka,” ujarnya.
Pewarta: Indra SetiawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.