Surabaya (ANTARA) - Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kota Surabaya melatih bantuan hidup dasar (BHD) bagi masyarakat awam guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kegawatdaruratan melalui kolaborasi lintas organisasi.
"Penyelamat pertama bukanlah tenaga kesehatan di rumah sakit, melainkan masyarakat yang berada di lokasi kejadian," kata Ketua DPD PPNI Kota Surabaya Dr Nuh Huda di Surabaya, Minggu.
Kegiatan ini digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-52 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan melibatkan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Jawa Timur serta Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai tuan rumah.
Pelatihan diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai organisasi masyarakat, di antaranya Nasyiatul Aisyiyah, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), Takmir Masjid Al Akbar, kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Surabaya, serta perwakilan Kelurahan Perak Barat.
"Dalam kondisi henti jantung, setiap detik sangat berharga, dan tindakan cepat dapat menyelamatkan nyawa," ujarnya.
Ketua Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Jawa Timur Dr Sriyono menegaskan edukasi kegawatdaruratan bagi masyarakat awam merupakan langkah strategis memperkuat sistem penanganan pra-rumah sakit berbasis komunitas.
“Pertolongan yang cepat dan tepat pada menit pertama dapat meningkatkan keberhasilan penyelamatan hingga 98 persen. Inilah mengapa pelatihan BHD untuk masyarakat awam menjadi sangat krusial dalam membangun sistem penanganan darurat yang kuat di tingkat komunitas," ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya Dr Dede Nasrullah menyatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung edukasi publik melalui kolaborasi dengan organisasi profesi.
Pelatihan dirancang komprehensif melalui tahapan pre-test, pemberian materi, hingga praktik langsung meliputi resusitasi jantung paru (RJP), teknik Heimlich untuk penanganan tersedak, penanganan luka bakar dan fraktur, serta komunikasi darurat melalui layanan 112.
Melalui pendekatan edukatif ini, peserta didorong tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis sebagai penolong pertama, sehingga mampu berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat tanggap darurat atau safe community.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026