Meracik teh dengan bahan lain itu sangat challenging
Surabaya (ANTARA) - Ajang Dilmah Mixology Playoff 2026 menjadi momentum mengangkat teh dari minuman tradisional menjadi sajian kreatif berstandar internasional melalui pendekatan mixology modern.
Kompetisi yang digelar pada 15–16 April di Surabaya itu menghadirkan 40 peserta dari berbagai wilayah Indonesia dengan beragam latar belakang untuk menampilkan interpretasi terbaik berbasis teh.
Vice President Director PT. David Roy Indonesia Eliawati Erly mengatakan ajang tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang bertemunya ide, teknik, dan kreativitas dalam satu panggung.
“Ajang ini menjadi ruang bertemunya berbagai cerita, latar belakang, dan kreativitas dalam satu panggung,” kata Eliawati dalam keterangannya di Surabaya, Jumat.
Ia menjelaskan konsep tahun ini dibuat lebih inklusif karena terbuka untuk umum, tidak hanya bagi pelanggan eksisting, sehingga memberi peluang lebih luas bagi pelaku industri, profesional, hingga talenta baru.
Selain itu, pihaknya ingin membuka ruang bagi siapa saja yang memiliki passion di dunia mixology untuk berkembang.
Menurut dia, keberagaman latar belakang peserta justru menjadi kekuatan utama dalam mendorong inovasi karena menghadirkan perspektif dan pendekatan baru dalam mengolah teh.
“Perbedaan pengalaman dan gaya ini menciptakan energi baru untuk bereksperimen dan menghasilkan karya yang lebih relevan dengan tren saat ini,” ucapnya.
Melalui ajang ini, pihaknya berharap dapat mendorong perkembangan industri minuman berbasis teh di Indonesia sekaligus memperkuat posisi teh sebagai bagian dari gaya hidup modern.
“Di sinilah ide bertemu teknik, dan passion bertemu peluang,” kata Eliawati.
Sementara, kehadiran juri internasional menjadi penguat standar global dalam kompetisi tersebut, yakni Jay Gray dan mixologist Indonesia Agung Prabowo.
Juri asal Inggris, Jay Gray, menilai mixology tidak selalu identik dengan minuman beralkohol, melainkan juga dapat dikembangkan dari bahan seperti teh yang memiliki karakter unik.
“Teh memiliki potensi besar untuk dieksplorasi dalam dunia mixology, tidak hanya dari rasa, tetapi juga aroma dan kompleksitasnya,” katanya.
Sementara itu, juri asal Indonesia, Agung Prabowo, menekankan tantangan utama dalam mengolah teh terletak pada keseimbangan rasa saat dikombinasikan dengan bahan lain.
“Meracik teh dengan bahan lain itu sangat challenging, karena bisa terlalu dominan atau justru terlalu ringan,” kata pria yang juga pengusaha di bidang Food and Beverage di Hongkong.
Ia menjelaskan kondisi tersebut menuntut ketelitian tinggi serta pemahaman karakter setiap bahan agar menghasilkan racikan yang seimbang.
Dalam kompetisi ini, kata dia, aspek keseimbangan menjadi faktor utama penilaian, selain kreativitas, teknik pengolahan, dan penyajian.
“Yang dicari adalah balance, bagaimana semua komponen bisa menyatu dengan harmonis,” tuturnya.
Dari hasil kompetisi, Jenry Firnanta dari Indigo Bandung berhasil meraih juara pertama, disusul Muhammad Rizal Alkhabibi dari The Sira Lombok sebagai juara kedua, serta Aditia Eka Kuasa dari Artotel Gelora Jakarta di posisi ketiga.
Pewarta: Naufal Ammar ImaduddinEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026