Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Tiga produk unggulan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yakni Pisang Mas Kirana, Susu Kambing Senduro, dan Ubi Madu Pasrujambe kini resmi memperoleh sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menerima penyerahan sertifikat Indikasi Geografis dari pihak Kemenkum di Ruang Mahameru Kantor Bupati Lumajang, Kamis.
"Indikasi Geografis itu bukan hanya pengakuan administratif, tetapi perlindungan atas identitas, mutu, dan reputasi produk unggulan Lumajang," kata Bupati Indah.
Menurutnya, sertifikasi Indikasi Geografis (IG) harus dimaknai sebagai instrumen perlindungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat, sehingga menekankan bahwa orientasi utama dari penguatan IG adalah distribusi nilai ekonomi yang lebih adil.
"Yang terpenting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan peternak sebagai pelaku utama. Di situlah esensi pembangunan ekonomi berbasis wilayah," tuturnya.
Ia menjelaskan keberhasilan tiga produk Lumajang meraih Indikasi Geografis menunjukkan pergeseran penting dalam struktur ekonomi daerah dari berbasis komoditas menuju berbasis identitas.
Gunung Semeru dalam konteks itu tidak lagi hanya menjadi latar geografis, tetapi menjadi sistem ekologi ekonomi yang membentuk kualitas, reputasi, dan nilai produk.
"Dari tanahnya lahir komoditas, dari komoditas lahir pengakuan negara, dan dari pengakuan itu lahir ruang baru bagi masyarakat untuk memperkuat posisi ekonomi mereka dalam rantai nilai yang lebih adil dan berkelanjutan," katanya.
Pengakuan itu menempatkan ketiga produk unggulan Lumajang dalam sistem perlindungan kekayaan intelektual komunal, yang tidak hanya menjaga nama dan reputasi produk, tetapi juga memastikan keterkaitan mutlak antara kualitas dan wilayah asal.
Dalam kerangka kebijakan nasional, Indikasi Geografis merupakan instrumen strategis untuk mendorong hilirisasi sektor pertanian dan peternakan berbasis potensi lokal.
Sistem itu memperkuat posisi petani dan produsen di hulu rantai nilai, sekaligus mengurangi risiko eksploitasi nilai tambah oleh pihak di luar wilayah produksi.
Sementara petani ubi madu Pasrujambe, Hariyanto mengatakan dirinya bersama petani lain menjadi bagian dari penggerak yang menjaga konsistensi mutu komoditas tersebut.
"Kami mempertahankan standar budidaya agar karakter khas ubi madu tetap terjaga sebagai identitas lokal yang tidak tergantikan oleh wilayah lain," katanya.
Pewarta: Zumrotun SolichahUploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.