Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Yayasan Rumah Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Gapai Rizqi Mulia (Garizmu) di Kabupaten Jember, Jawa Timur mengajak masyarakat untuk peduli terhadap anak autis dan tidak memberikan stigma negatif terhadap anak berkebutuhan khusus.
"Kami menggelar seminar sebagai kampanye untuk mengedukasi masyarakat bahwa anak autis ini cukup banyak di Jember, sehingga diharapkan bisa meningkatkan kesadaran, penerimaan, dan inklusi penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD)," kata Ketua Yayasan Rumah Terapi Anak Berkebutuhan Khusus Garizmu, Rizma Endah Susanti di Jember, Sabtu.
Ia menambahkan, jumlah anak autis yang terapi di yayasan itu sebanyak 400 anak, namun yang secara konsisten dan berkelanjutan melakukan terapi sekitar 150 anak.
Ia mengatakan orang tua yang memiliki putra-putri autis menjadikan bulan April sebagai hari istimewa, yang diisi dengan berbagai kegiatan untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa anak-anak dengan autisme perlu dukungan semua pihak.
"Anak-anak autis itu sering mendapat stigma negatif, sering dibully di sekolah, dan orang tua yang keluar rumah dengan anak autis juga merasa tidak nyaman. Kami berharap itu tidak lagi terjadi," katanya.
Sementara konsultan terapis dan Dosen Politeknik Kesehatan Surakarta, Tri Budi Santoso mengatakan bahwa orang tua yang memiliki anak autis harus bisa menerima apa adanya dan belajar memahami anak tersebut secara keseluruhan.
"Setelah dua hal itu bisa dilakukan, baru mencari sekolah dan tempat terapi untuk kebutuhan anaknya. Tidak lupa membagi keseimbangan hidupnya, serta menyiapkan anak tersebut untuk masa depan dengan skil yang dimiliki dan membantu anak itu bisa mandiri," katanya.
Salah satu orang tua yang memiliki anak autis, Herwindo Wicaksono, berharap anak-anak autis di Jember bisa diterima oleh masyarakat dan mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak normal.
Sebagai informasi, Hari Peduli Autisme Sedunia diperingati setiap tanggal 2 April sebagai bentuk kesadaran dan dukungan terhadap individu dengan spektrum autisme.
Peringatan itu bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, menghapus stigma, serta mendukung inklusivitas bagi penyandang autisme di berbagai aspek kehidupan.
Di Indonesia, aspek sosial juga masih menjadi hambatan karena kurangnya pemahaman masyarakat, hingga anggapan keliru bahwa autisme adalah penyakit yang harus disembuhkan.
Penyandang autisme membutuhkan penerimaan, termasuk tersedianya akses pendidikan inklusif, layanan kesehatan yang memadai, serta ruang publik yang ramah disabilitas, guna mendukung penyandang autisme untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial.
Pewarta: Zumrotun SolichahEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026